MURIANETWORK.COM - Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan APEC Business Advisory Council (ABAC) pada 7-9 Februari 2026. Menyambut momentum strategis ini, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tengah mempersiapkan sejumlah langkah konkret untuk menarik lebih banyak aliran investasi asing langsung (FDI), yang saat ini berkisar di angka USD60 miliar. Fokus utamanya adalah menciptakan ekosistem yang aman dan menarik bagi para investor global.
Strategi Kadin: Menjadi Jembatan bagi Investor
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan peran organisasinya sebagai fasilitator. Dalam strategi yang disiapkan, Kadin tidak hanya akan mempromosikan peluang, tetapi lebih jauh lagi, berupaya menjadi penghubung yang mereduksi risiko bisnis bagi investor asing yang ingin masuk ke pasar Indonesia. Kunci dari strategi ini terletak pada proses asimilasi dan penyediaan mitra lokal.
Anindya menjelaskan, “Di situ akan banyak terjadi asimilasi antara ABAC Indonesia dan juga ABAC negara-negara lain. Setiap negara mempunyai keinginan masing-masing dan kita juga akan memperkenalkan supaya mereka juga nyaman karena di sini ada kawannya atau istilahnya partnernya yang di-risk atau mereduksi risikonya,” tuturnya saat ditemui di Kementerian Luar Negeri, Kamis (5/3/2026).
Target Meningkatkan Realisasi Investasi
Langkah-langkah tersebut secara khusus ditujukan untuk mendongkrak realisasi investasi asing langsung. Kadin berkomitmen memanfaatkan momentum pertemuan tingkat tinggi ini untuk meyakinkan para pemodal global agar meningkatkan komitmen mereka di Indonesia, tentunya dengan koordinasi yang erat bersama pemerintah.
“Investasi kita kan FDI itu USD60 miliar. Kita berharap dengan melihat ada begitu banyaknya pasar ini ya kita bisa meyakinkan mereka mumpung mereka di sini untuk menambah FDI yang dibutuhkan oleh Indonesia dan tentunya Kementerian Investasi. Jadi kita fokus untuk membesarkan investasi,” jelas Anindya.
Kolaborasi Erat dengan Pemerintah
Penyelenggaraan ABAC di Indonesia ini juga mencerminkan sinergi yang kuat antara dunia usaha dan pemerintah. Kolaborasi ini dinilai krusial, terutama dalam konteks keketuaan APEC 2026 yang dipegang oleh Tiongkok. Kerja sama tidak hanya terjalin dengan Kementerian Luar Negeri, tetapi juga dengan kementerian teknis lainnya seperti Kementerian Perdagangan.
“Kita menjadi host daripada ABAC ya, APEC Business Advisory Council. Keketuaan APEC kali ini adalah China yang puncaknya di November di Shenzhen. Nah, ini juga salah satu contoh kerja sama dengan pemerintah dalam hal ini dengan Kemenlu, tapi juga Kementerian Perdagangan," ujarnya.
Momentum Promosi di Tengah Elite Global
Pertemuan ini jauh dari sekadar agenda rutin belaka. Anindya menyoroti bahwa forum ini akan dihadiri oleh sekitar 60 anggota ABAC, yang merupakan para penentu kebijakan ekonomi dari kekuatan ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, hingga Rusia. Kehadiran mereka menjadikan acara ini semacam "karpet merah" untuk promosi perdagangan dan investasi Indonesia di panggung paling elite.
“Ini merupakan bukan hanya sarana untuk rapat ABAC menuju kepada puncaknya, tapi kita juga menggunakan ini sebagai sarana tadi untuk promosi perdagangan juga investasi. Kita kemarin menjumlahkan market capitalization mereka kalau dijumlahin USD1,2 triliun. Jadi, itu mirip-mirip dengan PDB kita,” ungkapnya.
Dengan demikian, persiapan yang dilakukan oleh Kadin dan pemerintah mengarah pada satu tujuan: memastikan pertemuan kelas dunia ini memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam menarik investasi yang berkelanjutan dan berkualitas.
Artikel Terkait
Transjabodetabek Siapkan 20 Bus Rute Baru Blok M-Bandara Soetta
Shayne Pattynama Jadi Orang Pertama yang Konfirmasi Kepindahan Mauro Zijlstra ke Persija
Mitsubishi Luncurkan Edisi Khusus 55 Tahun di Indonesia, Destinator dan Xforce Jadi Andalan
Pemerintah Fokuskan Transmigrasi pada Peningkatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur