Hujan Tak Kunjung Reda, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem hingga 19 Januari

- Kamis, 15 Januari 2026 | 08:50 WIB
Hujan Tak Kunjung Reda, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem hingga 19 Januari

Awal tahun 2026 ini, langit di atas Indonesia tampaknya tak henti-hentinya mencurahkan hujan. Intensitasnya bervariasi, dari gerimis biasa hingga curahan yang benar-benar deras. Bahkan, menurut prakiraan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi seperti ini diprediksi masih akan berlangsung selama sepekan ke depan, setidaknya hingga tanggal 19 Januari.

Beberapa daerah bahkan sudah merasakan dampak ekstremnya. Catatan BMKG menunjukkan hujan dengan intensitas sangat lebat tercurah di Makassar, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Angka-angka yang tercatat cukup tinggi, berkisar antara 120 hingga 129 milimeter per hari.

Lantas, apa penyebabnya? Menurut analisis BMKG, cuaca ekstrem ini bukanlah fenomena sederhana. Ada kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat.

“Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Pertama, terdapat penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa,”

Begitu penjelasan resmi dari BMKG yang dirilis Kamis (14/1/2026). Pola angin ini menciptakan zona pertemuan atau konvergensi, terutama di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga NTB. Zona inilah yang menjadi pabrik awan hujan, memicu pertumbuhannya secara intensif.

Di sisi lain, ada faktor pendorong lain dari arah selatan. Keberadaan daerah tekanan rendah di sekitar Australia timur mengubah pola sirkulasi angin regional. Alhasil, angin di Indonesia bagian selatan jadi lebih dominan mengalir ke timur. Hal ini semakin memperkuat proses konvergensi dan menyebabkan massa udara bergerak lebih lambat.

“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,”

Nah, untuk sepekan ke depan, dinamika atmosfer dalam berbagai skala masih akan memainkan peran penting. Secara global, fenomena La Niña lemah terpantau menguat. Kondisi ini, ditambah dengan suhu permukaan laut yang relatif hangat di perairan Indonesia, menyuplai banyak uap air bahan baku utama pembentukan awan hujan.

Jadi, apa yang perlu diwaspadai?

Untuk hari ini, 15 Januari, hujan ringan hingga lebat akan mendominasi sebagian besar wilayah. Namun, waspadai peningkatan intensitas menjadi hujan sedang di sejumlah provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga sebagian besar Kalimantan dan Papua. Yang lebih serius, status siaga untuk hujan lebat-sangat lebat dikeluarkan untuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Pegunungan. Angin kencang juga berpotensi terjadi di banyak daerah, dari Riau hingga Papua.

Pola serupa masih akan berlanjut dalam periode 16 hingga 19 Januari. Hujan ringan hingga lebat tetap dominan. Peningkatan hujan sedang perlu diantisipasi lagi, kali ini meliputi Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jakarta, serta sebagian besar Jawa, Bali, NTB, dan Kalimantan. Status siaga hujan lebat-sangat lebat berlaku untuk Sumatera Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan. Sementara itu, ancaman angin kencang masih luas, mencakup banyak wilayah dari Sumatera hingga Papua.

Intinya, payung dan jas hujan sepertinya masih akan menjadi barang wajib untuk beberapa hari ke depan. Masyarakat di wilayah-wilayah yang disebutkan, terutama yang masuk kategori siaga, disarankan untuk tetap waspada dan memperbarui informasi cuaca terkini dari BMKG.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar