Awal tahun 2026 ini, langit di atas Indonesia tampaknya tak henti-hentinya mencurahkan hujan. Intensitasnya bervariasi, dari gerimis biasa hingga curahan yang benar-benar deras. Bahkan, menurut prakiraan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi seperti ini diprediksi masih akan berlangsung selama sepekan ke depan, setidaknya hingga tanggal 19 Januari.
Beberapa daerah bahkan sudah merasakan dampak ekstremnya. Catatan BMKG menunjukkan hujan dengan intensitas sangat lebat tercurah di Makassar, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Angka-angka yang tercatat cukup tinggi, berkisar antara 120 hingga 129 milimeter per hari.
Lantas, apa penyebabnya? Menurut analisis BMKG, cuaca ekstrem ini bukanlah fenomena sederhana. Ada kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat.
Begitu penjelasan resmi dari BMKG yang dirilis Kamis (14/1/2026). Pola angin ini menciptakan zona pertemuan atau konvergensi, terutama di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga NTB. Zona inilah yang menjadi pabrik awan hujan, memicu pertumbuhannya secara intensif.
Di sisi lain, ada faktor pendorong lain dari arah selatan. Keberadaan daerah tekanan rendah di sekitar Australia timur mengubah pola sirkulasi angin regional. Alhasil, angin di Indonesia bagian selatan jadi lebih dominan mengalir ke timur. Hal ini semakin memperkuat proses konvergensi dan menyebabkan massa udara bergerak lebih lambat.
Artikel Terkait
Presiden Iran Ancam Balas Dendam ke AS dan Israel Usai Kematian Khamenei
Protes di Times Square dan Serangan Balasan Iran Menyusul Eskalasi Militer AS-Israel
Serangan Drone di Dubai, 700 Penerbangan Dibatalkan dan Warga Diminta Berlindung
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara AS-Israel, Iran Balas Serang