Tas Belanja Rp160 Juta: Kisah Tas Murah yang Jadi Simbol Gaya Global

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:50 WIB
Tas Belanja Rp160 Juta: Kisah Tas Murah yang Jadi Simbol Gaya Global

JAKARTA – Siapa sangka, sebuah tas belanja kanvas biasa bisa jadi barang mewah? Itulah yang terjadi pada tote bag dari supermarket AS, Trader Joe’s. Di tokonya, tas ini cuma dijual sekitar 3 dolar AS. Tapi coba lihat di beberapa situs jual beli online internasional, harganya melambung fantastis mencapai 10.000 dolar AS atau setara Rp160 juta. Sungguh luar biasa.

Semua ini berawal dari pengalaman Holly Davies. Dia membawa pulang tas itu usai berkunjung ke Amerika. Awalnya sih, tas tersebut cuma dipakai untuk belanja sehari-hari, tak ada yang istimewa.

Tapi setelah pulang ke negaranya, Davies mulai sering melihat tas yang sama di mana-mana. Di kereta bawah tanah, di jalanan, di kafe-kafe. Dari situ ia sadar, tas murah ini ternyata punya daya tarik yang berbeda di luar Amerika Serikat.

Trader Joe’s, perlu diketahui, cuma beroperasi di AS. Mereka tidak punya cabang di luar negeri. Nah, justru kelangkaan inilah yang bikin tasnya jadi incaran. Di kota-kota besar macam London, Seoul, atau Tokyo, memiliki tas ini seperti punya sedikit potongan budaya Amerika.

Bagi banyak orang, tas itu bukan sekadar wadah belanja. Ia jadi simbol bahwa si pemilik pernah jalan-jalan ke AS, semacam bukti pengalaman. Makanya, gak heran kalau minatnya makin tinggi.

Di situs seperti eBay atau pasar barang bekas Korea Selatan, tas yang harganya cuma US$2,99 itu dijual dengan harga selangit. Bahkan ada yang berani pasang banderol US$10.000. Gila, ya?

Ini semua tentu bukan soal kualitas bahannya. Bahannya ya kanvas biasa, desainnya juga sederhana. Nilainya justru datang dari rasa “langka” dan “eksklusif” itu. Karena tidak bisa dibeli sembarangan, jadilah ia barang koleksi.

Pada akhirnya, tas belanja murah ini telah berubah total. Dari sekadar fungsi praktis, kini ia menjelma jadi simbol identitas, kenangan jalan-jalan, dan tentu saja barang buruan para kolektor. Fenomena yang menarik sekaligus sedikit menggelikan, bukan?

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar