Meski demikian, Prabowo rupanya optimis. Ia menduga target itu bisa tercapai lebih cepat, bahkan berpotensi terwujud pada akhir tahun 2025 nanti. Artinya, di tahun pertama pemerintahannya.
Di sisi lain, Presiden tak lupa mengingatkan alasan mendasar di balik ambisi swasembada ini. Bagi Prabowo, kemandirian pangan adalah syarat mutlak bagi bangsa yang benar-benar merdeka. Tanpa itu, kedaulatan hanyalah ilusi.
Kekhawatirannya punya dasar. Kondisi geopolitik global saat ini dinilainya semakin tidak menentu. Ia menyoroti negara-negara sumber impor beras tradisional Indonesia yang kini dilanda gejolak.
“Kalau kita tidak swasembada beras, di tengah konflik di mana-mana... sumber impor beras kita tadinya adalah Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Sekarang Thailand sama Kamboja perang. Terus setelah perang, negosiasi, senjata-senjata, damai, meletus lagi,” paparnya, menggambarkan ketidakpastian yang membayangi.
Oleh karena itu, fokusnya tak hanya pada beras. Presiden juga menekankan pentingnya kemandirian untuk komoditas pangan lain. Jagung dan singkong sebagai sumber karbohidrat alternatif, plus berbagai sumber protein, harus dikuatkan. Semua demi satu hal: ketahanan pangan nasional yang tangguh menghadapi gelombang ketidakpastian global yang mungkin akan terus datang.
Artikel Terkait
Prasetyo Hadi Tegaskan Anggaran Rp60 Triliun untuk Pascabencana Bukan Anggaran Mati
Bencana November 2025: 25 Desa di Aceh dan Sumut Terhapus dari Peta
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026