Setelah Venezuela, Trump Bidik Kolombia dan Iran dari Langit Malam

- Senin, 05 Januari 2026 | 18:15 WIB
Setelah Venezuela, Trump Bidik Kolombia dan Iran dari Langit Malam

Semua ini berawal dari aksi AS di Venezuela. Operasi akhir pekan itu tidak hanya menyerang, tetapi juga menangkap Maduro dan membawanya ke New York untuk menghadapi proses hukum. Bagi Trump, ini baru babak pertama.

Ia bahkan mengemukakan kemungkinan serangan militer kedua ke Venezuela, terutama jika pemerintahan sementara di sana tak mau bekerja sama. AS, menurutnya, akan menjalankan Venezuela sampai kepemimpinan baru terpilih. Termasuk membuka kran industri minyak negara itu. Soal waktu pemilihan? Trump enggan merinci. “AS akan mengurus negara itu,” katanya singkat, sambil mengutip Doktrin Monroe dari abad ke-19 sebagai pembenaran.

Namun begitu, ada satu negara yang sepertinya lolos dari daftar sasaran: Kuba. Trump berpendapat, dengan terputusnya bantuan dari Venezuela, negara pulau itu sudah “siap untuk jatuh” dengan sendirinya. Jadi, tak perlu tindakan militer.

Reaksi dari Caracas tentu saja keras. Para pejabat setia Maduro menyebut aksi AS sebagai penculikan. Mereka bersikukuh bahwa Maduro tetap presiden sah. Di tengah kekosongan, Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih sebagai pemimpin sementara. Menariknya, Rodriguez sendiri di masa lalu pernah membantah klaim Trump yang menyatakan dia bersedia bekerja sama dengan Washington. Situasinya jadi rumit.

Jadi, setelah Venezuela, mata Trump kini tertuju ke dua arah: Kolombia di selatan dan Iran di Timur Tengah. Dunia kembali menahan napas, menunggu langkah berikutnya dari Gedung Putih.


Halaman:

Komentar