Keluarga pedangdut legendaris Mansyur S berduka. Senin pagi (5/1), sang istri, Rosidah, berpulang. Ia menghembuskan napas terakhir tepat di pangkuan suami yang telah menemaninya puluhan tahun.
Mansyur menceritakan detik-detik itu dengan suara yang masih bergetar. Pagi itu, seperti biasa, ia berolahraga di dekat tempat Rosidah berbaring. Rutinitasnya selalu sama: mendekat, mencium kening dan pipi sang istri. “Hari-hari saya olahraga, pasti saya dekati dia,” kenangnya. “Saya tidak menyangka kalau hari ini adalah akhir dari kehidupan istri saya tercinta.”
Semuanya berlangsung cepat. Ia menyadari keadaan Rosidah memburuk saat melihatnya kesulitan menelan. Mansyur langsung menghentikan aktivitasnya.
“Saya makan, akhirnya suapan terakhir, makanan yang terakhir itu tidak bisa masuk. Akhirnya saya berhenti olahraga, saya ambil air, saya kasih dia. Masih ada senyum. Rupanya, begitu saya pegang, saya dekati keningnya, tahu-tahu langsung sudah jatuh di pelukan saya di sini,” ujar Mansyur S, ditemui di rumah duka mereka di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.
Meski sudah tahu, Mansyur masih berusaha. Ia membawa sang istri ke Rumah Sakit Persahabatan. Sayangnya, harapan itu pupus. Tim medis di sana hanya bisa menyatakan yang sudah terjadi.
“Karena masih penasaran, saya bawa ke rumah sakit. Ternyata begitu saya ke sana, suster menyatakan bahwa sudah meninggal dunia. Jam 9 pagi tadi,” tuturnya.
Luka dari Gula yang Tak Terkendali
Rosidah diketahui telah lama mengidap diabetes tipe dua. Namun, kondisinya benar-benar merosot dalam dua minggu terakhir. Kadar gula darahnya drop, dan efeknya ternyata lebih dari sekadar lemas.
Penyakit itu sempat merenggut ingatannya. Mansyur dengan pilu bercerita, Rosidah kerap lupa padanya. “Yang saya rasakan, dia itu lupa sama seorang Mansyur. Saya ini suaminya. Kadangkala nanya Mansyur itu ke saya, 'Di mana Ayah?'.
Ia pun berpesan, “Untuk itu hati-hati untuk yang mengidap diabetes, bila drop gula darah cepat periksa ke dokter. Karena ternyata akibat dari drop-nya itu, memori yang kena, lupa.”
Namun begitu, di ujung waktu, ada secabar cahaya. Mansyur bersyukur karena ingatan sang istri sempat kembali sesaat. “Tadi pagi ini dia masih nanya sama ponakan saya, 'Di mana Ayah?'. Allah masih kasih ingatan, langsung berdekatan dengan saya sehari-hari,” ujarnya, mencoba menemukan penghiburan di tengah duka.
56 Tahun Mengarungi Lautan Hidup
Mereka telah menempuh perjalanan panjang. Pernikahan yang dimulai pada 7 Maret 1970 itu hampir genap 56 tahun. Bagi Mansyur, Rosidah adalah teman sejati yang setia menemani dari titik nol.
“Maret besok, saya 56 tahun dengan dia berkeluarga. Jadi cukup lama liku-liku. Saya bersyukur sama Allah, dari nol sampai sekarang, saya tidak menyia-nyiakan dia,” kenang Mansyur. “Dia seorang istri yang Sakinah Mawaddah Warahmah, yang baik sekali, wanita ahli ibadah.”
Suaranya terdengar hangat saat memuji kesetiaan dan pelayanan Rosidah. “Wah, luar biasa. Saya kira kalau kita dulu belum kawin kan selalu doa, mudah-mudahan dapat istri yang setia, yang ibadah, yang masakannya enak. Jadi semua saya dapati,” jelasnya. Sebuah pengakuan sederhana yang bicara banyak tentang cinta yang telah bertahan lebih dari setengah abad.
Peristirahatan Terakhir di Dekat Keluarga
Rosidah akan dimakamkan di pemakaman keluarga, tak jauh dari rumah mereka di Jatinegara. Lokasinya berada di depan sebuah masjid. Pilihan ini diambil Mansyur agar istrinya bisa berdekatan dengan orang tua dan sanak saudara yang telah pergi lebih dulu.
“Rencana hari ini. Diizinkan di sini, karena kebetulan orang tua saya semua di sini. Alhamdulillah nanti di sini,” tutup Mansyur, mengakhiri percakapan tentang kepergian belahan jiwanya.
Artikel Terkait
AS Yakinkan Mitra Dagang Soal Keberlanjutan Kesepakatan Meski Tarif Baru Berlaku
Defisit APBN Januari 2026 Capai Rp54,6 Triliun, Menkeu: Masih Terkendali
Ekonom INDEF Soroti Potensi Kerugian Rp 4 Triliun dan Waktu Balik Modal Proyek Whoosh Capai 100 Tahun
Menkeu Purbaya Sindir Viral Alumni LPDP: 20 Tahun Lagi Akan Nyese!