Masalahnya beragam. Mulai dari ruang kelas yang masih penuh lumpur, material sisa banjir yang belum bersih total, sampai akses jalan yang terputus. Di beberapa tempat, kondisi bahkan lebih kompleks. Beberapa madrasah masih dipakai sebagai tempat pengungsian, sementara di daerah seperti Bener Meriah statusnya masih siaga bencana.
Yang menarik, semangat adaptasi juga tampak. Khairul menyebut, ada 10 lembaga pendidikan yang bangunannya roboh atau hanyut ternyata sudah siap juga untuk belajar. Tentu saja, lokasinya pindah. Mereka akan menggunakan tempat sementara seperti masjid, balai desa, atau lapangan yang masih tersisa.
Di sisi lain, upaya pemulihan terus digenjot. Kemenag Aceh mengaku terus berkoordinasi dengan pemda dan relawan untuk memperbaiki sarana prasarana yang rusak. Tujuannya satu: agar semua siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman secepatnya.
tegas Khairul menutup penjelasannya.
(Nur Ichsan Yuniarto)
Artikel Terkait
ALTO Network Luncurkan Dua Platform untuk Permudah Pengelolaan Transaksi Digital
Menteri Keuangan Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Tembus 5,5 Persen
BPOM Peringatkan Bahaya Penyalahgunaan Gas Tertawa, Bisa Picu Ketergantungan hingga Kematian
BCA Gelar Kuliah Umum dan Program Desa untuk Siapkan Generasi Muda Hadapi Tantangan Global