Masalahnya beragam. Mulai dari ruang kelas yang masih penuh lumpur, material sisa banjir yang belum bersih total, sampai akses jalan yang terputus. Di beberapa tempat, kondisi bahkan lebih kompleks. Beberapa madrasah masih dipakai sebagai tempat pengungsian, sementara di daerah seperti Bener Meriah statusnya masih siaga bencana.
Yang menarik, semangat adaptasi juga tampak. Khairul menyebut, ada 10 lembaga pendidikan yang bangunannya roboh atau hanyut ternyata sudah siap juga untuk belajar. Tentu saja, lokasinya pindah. Mereka akan menggunakan tempat sementara seperti masjid, balai desa, atau lapangan yang masih tersisa.
Di sisi lain, upaya pemulihan terus digenjot. Kemenag Aceh mengaku terus berkoordinasi dengan pemda dan relawan untuk memperbaiki sarana prasarana yang rusak. Tujuannya satu: agar semua siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman secepatnya.
tegas Khairul menutup penjelasannya.
(Nur Ichsan Yuniarto)
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Bentuk Satgas Khusus Tangani Bencana Sumatera
Iran Kutuk Operasi AS di Venezuela sebagai Tindakan Terorisme Negara di PBB
Pemerintah Buka Peluang Perluasan Makan Bergizi Gratis untuk Anak Jalanan dan Disabilitas
Retret Kabinet Diperpanjang, Prabowo Bahas Hilirisasi hingga Tengah Malam