Isu soal kerusakan lingkungan di sekitar Gunung Slamet belakangan ramai diperbincangkan. Banyak yang menyebut aktivitas proyek panas bumi di wilayah itu sebagai biang keladinya. Namun, Kementerian ESDM angkat bicara. Menurut mereka, pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Baturaden sepenuhnya berada dalam pengawasan pemerintah. Prinsip kehati-hatian, keselamatan, dan kelestarian lingkungan disebut jadi prioritas utama.
Yang menarik, masa eksplorasi di kawasan itu sebenarnya sudah berakhir sejak Desember tahun lalu. Jadi, klaim adanya kerusakan lingkungan akibat proyek yang masih aktif agaknya meleset dari fakta.
“Pengelolaan WKP Baturaden kami pastikan tetap terpantau,” tegas Eniya Listiani Dewi, Dirjen EBTKE Kementerian ESDM.
Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/12/2025), Eniya menegaskan setiap tahapan proyek panas bumi di wilayah itu berjalan sesuai regulasi. “Pemerintah tidak membiarkan aktivitas berjalan tanpa pengawasan,” tambahnya.
Wilayah seluas 24.660 hektare ini dikelola oleh PT Sejahtera Alam Energy (PT SAE). Kegiatan eksplorasi mereka, yang berlangsung dari 2015 hingga 2021, mencakup pembangunan jalan, wellpad, dan pengeboran tiga sumur eksplorasi. Pekerjaan itu sendiri sudah rampung bertahun-tahun lalu.
Nah, sejak Desember 2024, tidak ada lagi kegiatan eksplorasi aktif atau pembukaan lahan baru di sana. Fokusnya sekarang beralih ke pengelolaan dan pemulihan.
“Setelah masa eksplorasi berakhir, tidak ada lagi kegiatan pengeboran. Yang berjalan adalah pengelolaan wilayah kerja, pemantauan lapangan, serta pemulihan lingkungan yang menjadi kewajiban badan usaha,” jelas Eniya.
PT SAE sendiri disebut telah melakukan penutupan sumur di dua lokasi. Mereka juga mulai mereklamasi dan menanam kembali pepohonan. Proses pemulihan lingkungan ini diklaim masih terus berjalan, dengan koordinasi bersama kementerian terkait.
Lalu, bagaimana dengan kondisi di lapangan saat ini? Menurut hasil inspeksi Tim Kementerian ESDM pada pertengahan dan akhir Desember 2025, situasinya cukup berbeda dari gambaran yang beredar. Tidak ada aktivitas eksplorasi yang mereka temukan. Yang ada justru pertumbuhan vegetasi alami di area bekas kegiatan, tanda bahwa alam mulai pulih.
Soal foto-foto kerusakan yang viral, Eniya punya penjelasan. Menurutnya, sebagian gambar itu kemungkinan adalah citra lama dari periode 2017-2018, saat eksplorasi memang sedang gencar-gencarnya. “Berdasarkan dokumentasi inspeksi terbaru, lokasi yang sama saat ini telah ditumbuhi vegetasi,” katanya.
Di sisi lain, tim inspeksi justru menemukan aktivitas lain di dalam wilayah WKP. Bukan panas bumi, melainkan pertambangan batuan atau galian C. Aktivitas ini, yang izinnya sedang dievaluasi pemerintah, sama sekali terpisah dari proyek PT SAE.
Kementerian ESDM juga meluruskan soal kawasan wisata Guci. Pemandian air panas itu letaknya justru di luar WKP Baturaden. Kerusakan fasilitas yang terjadi di sana lebih disebabkan banjir pada 20 Desember 2025 bencana yang disebut kerap terjadi di daerah tersebut. Pemerintah Kabupaten Tegal dan warga setempat kini sedang membersihkan dan memperbaiki kerusakan itu.
Ke depan, pengawasan lintas sektor akan diperkuat. Evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan WKP Baturaden juga akan dilakukan, untuk memastikan semuanya berjalan berkelanjutan dan sesuai aturan.
Artikel Terkait
Menteri Koperasi Dorong Kospin Jasa Percepat Operasional Kopdes Merah Putih
Wagub Banten Dukung Program Religi iNews Cahaya Hati Cahaya Indonesia
Data IDF: Lebih dari 50.000 Personel Militer Israel Pegang Kewarganegaraan Asing
Indonesia dan Thailand Perbarui Kemitraan Strategis Ekonomi Kreatif