Cipta Cendikia: Di Balik Kesuksesan Tim Putri yang Dibina Satu Atap

- Senin, 29 Desember 2025 | 18:36 WIB
Cipta Cendikia: Di Balik Kesuksesan Tim Putri yang Dibina Satu Atap

Prestasi yang Tak Hanya di Lapangan

Meski tim putrinya baru berusia setahun, catatan prestasinya sudah mengesankan. Mereka berhasil menjadi juara di FOBISIA Football Competition dan Piala Pertiwi U-14 Regional Jakarta. Di ajang Hydroplus Soccer League U-15 Jakarta, mereka bahkan masih bertengger di puncak klasemen dengan rekor sempurna: 13 pertandingan, 13 kemenangan.

Dua nama andalannya, Ratu Anindya Zilvana dan Albianca Raula, mendominasi daftar top scorer. Tapi bagi Cipta Cendikia, trofi bukan segalanya.

“Sebenarnya visi dan misi kita adalah menciptakan pemain bola yang cerdas dan ber-attitude baik. Jadi yang masuk Cipta Cendikia harus sekolah, harus pintar semuanya, seperti itu,” jelas Intan.

Misi jangka panjang mereka justru lebih besar: menghapus stigma bahwa pesepak bola, terutama putri, pasti lemah secara akademis.

Pintu Masih Terbuka

Walaupun sistemnya terintegrasi, kesempatan untuk bergabung dari luar masih ada, khususnya untuk tim putri. Kebijakan ini memberi celah bagi pemain muda yang ingin merasakan pola pembinaan mereka, meski belum bersekolah di sana.

“Untuk sekarang, tim putri masih terbuka untuk umum. Tapi pelan-pelan kami berharap mereka juga bisa bersekolah di sini, supaya benar-benar terkontrol,” harap Intan.

Dengan sistem satu atap, pengawasan memang lebih ketat. Mulai dari pola makan sampai aktivitas harian. Salah satu aturan yang diterapkan adalah pembatasan penggunaan ponsel. “Anak-anak hanya boleh menggunakan handphone di Jumat sore setelah yoga dan di akhir pekan. Selebihnya tidak,” ujarnya.

Pembinaan inti difokuskan untuk usia SMP hingga SMA. Beberapa pemain SD yang ada saat ini merupakan hasil program MilkLife Soccer Challenge, dan mereka baru akan benar-benar masuk sistem ketika menginjak bangku SMP.

Suara dari Dalam Lapangan

Lalu, bagaimana rasanya bagi para pemain? Albianca Raula, yang bergabung awal 2025, mengaku langsung betah.

“Aku suka banget sama tim ini. Teman-temannya baik, suasananya seru, dan pas main di lapangan juga kompak,” katanya.

Kekompakan itu juga yang dirasakan Khansa Rosyid. Menurutnya, meski tidak selalu bertemu setiap hari, chemistry di lapangan tetap terjalin dengan baik.

“Pertemanannya bagus, timnya juga solid. Kalau di pertandingan, komunikasinya jalan,” ujar Khansa.

Mungkin, resepnya ada di situ. Di keseharian yang terstruktur, di keseimbangan antara disiplin dan relaksasi, serta di lingkungan yang mendukung mereka untuk tumbuh bukan hanya sebagai atlet, tapi juga sebagai seorang pelajar. Dan sejauh ini, hasilnya berbicara sendiri.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar