Di tengah lumpur dan sisa-sisa reruntuhan, aksi gotong royong terlihat nyata. Personel TNI dan Polri bahu-membahu mendirikan hunian sementara untuk warga Sumatera Barat yang rumahnya hancur diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Mereka bekerja cepat, tapi penuh semangat.
Antusiasme dan kekompakan terpancar jelas dari wajah para prajurit dan polisi itu. Di bawah terik matahari, mereka memasang rangka baja ringan, menyusun dinding papan semen, hingga menutup atap dengan zincalume. Lantai multipleks dipasang, pengecoran dilakukan. Semua bergerak serentak, seolah tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk memberikan atap bagi para korban.
Menurut sejumlah saksi, lokasi pembangunan tersebar di beberapa titik rawan. Prajurit Denzipur 2/PS Kodam XX/TIB, misalnya, fokus di dua nagari: Koto Tinggi di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Salareh Aia di Agam. Sementara itu, gabungan personel Brimob Nusantara dan Korpolairud Baharkam Polri mengerjakan tiga lokasi lain mulai dari Kelurahan Kapalo Koto di Kota Padang, Kampung Limou Hantu di Pesisir Selatan, hingga posko di Padang Pariaman.
Rumah-rumah darurat ini memang didesain untuk cepat berdiri. Namun begitu, fasilitas dasarnya tak dilupakan. Setiap unit huntara akan dilengkapi dapur umum, sanitasi yang layak, dan tentu saja, tempat untuk beribadah. Desainnya sederhana, tapi dijamin layak huni.
Artikel Terkait
Pertamina Bantah Isu Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Awal April 2026
Indonesia dan Jepang Jajaki Kemitraan Sister Park untuk Konservasi
Indonesia dan Jepang Perkuat Kemitraan Pariwisata dengan MoC Pertama
Nadiem Soroti Penggunaan SPT Pajak Pribadi sebagai Barang Bukti di Sidang Korupsi Chromebook