Isi pernyataan bersama mereka cukup jelas. Kedua negara menekankan pentingnya menyelesaikan sengketa perbatasan dengan cara damai. Semua harus dilandasi rasa saling percaya dan itikad baik, tentu saja dengan menghormati hukum internasional dan berbagai piagam yang ada.
“Kami berkomitmen untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan,” bunyi salah satu poin dalam pernyataan itu, seperti yang dikutip dari Khmer Times.
“Penyelesaian sengketa harus damai, dengan menghormati batas internasional.”
Di sisi lain, keputusan ini bukanlah yang pertama. Gencatan senjata sebenarnya sudah pernah disepakati pada akhir Juli 2025 lalu. Namun begitu, kesepakatan terbaru ini dimaksudkan untuk memperkuat dan menegaskan kembali komitmen yang sempat retak. Mereka berjanji akan mengimplementasikannya secara penuh dan efektif.
Nuansa dari pertemuan khusus para Menteri Luar Negeri ASEAN di Kuala Lumpur, 22 Desember lalu, juga terasa kuat. Tekanan dari sesama negara anggota rupanya berpengaruh. Kedua pihak kini sama-sama ingin membangun perdamaian yang benar-benar berkelanjutan di perbatasan mereka.
Harapannya jelas: memulihkan keadaan, membangun kepercayaan, dan menciptakan perdamaian yang abadi. Jalan masih panjang, tapi setidaknya langkah pertama sudah diambil. Kedua negara kini punya pekerjaan rumah untuk menjaga agar gencatan ini tidak kembali gagal.
Artikel Terkait
KPK Imbau Kepala Daerah Evaluasi Penyalahgunaan Kendaraan Dinas untuk Mudik
Jasa Marga Operasikan Japek II Selatan untuk Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Kemenhub Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026, Imbau Masyarakat Hindari Keberangkatan Serempak
Israel Serang Fasilitas Nuklir dan Industri Iran, Korban Jiwa Berjatuhan