"Karena akses jalannya juga terkendala."
Belum lagi soal cuaca. Ekstremnya cuaca belakangan ini bikin banyak orang memilih berhati-hati. Mereka cenderung memilih destinasi yang dekat, atau malah menunda liburan sama sekali. Ini jadi tantangan tambahan yang cukup signifikan.
"Dengan cuaca ekstrem itu, banyak traveler mungkin melakukan perjalanan yang tidak terlalu jauh, atau yang tidak mengambil risiko," jelasnya.
Lalu, bagaimana dengan berbagai stimulus pemerintah? Program diskon tiket, potongan tol, sampai kebijakan WFH dan WFA memang membantu menjaga mobilitas. Tapi menurut PHRI, itu semua belum cukup untuk mendongkrak angka okupansi hotel secara nasional. Efeknya terasa, tapi tidak drastis.
Dengan segudang hambatan itu, peran libur Nataru tahun ini lebih seperti bantalan. Fungsinya menahan laju penurunan, bukan jadi motor penggerak pertumbuhan.
"Makanya kita lihat nanti finalnya setelah libur Natal ini gimana sebenarnya," pungkas Maulana.
"Apakah pergerakan itu meningkat atau menurun, nanti kita bisa lihat di sana."
Artikel Terkait
Ekonom: Liburan Beruntun dan Stimulus Pacu Target Pertumbuhan 5,5% di Kuartal I-2026
Kementerian Kebudayaan Terapkan WFH dan Efisiensi Energi Respons Krisis Global
Menteri ESDM Imbau Masyarakat Tenang, Stok BBM Nasional Masih Aman
Tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan Mudik Lebaran 2026 Laris, Okupansi Lampaui 100%