Kalau kamu perhatikan, jalanan akhir-akhir ini mulai diramaikan oleh motor trail dengan tampilan yang beda. Gak lagi sporty dan modern, tapi justru terlihat klasik, bahkan jadul. Ya, tren modifikasi motor trail memang lagi berubah haluan. Setelah sekian lama didominasi gaya supermoto yang garang, kini banyak tangan-tangan kreatif justru membawa motor-motor itu kembali ke masa lalu, menghadirkan nuansa vintage yang sarat nostalgia.
Menurut Aldo Avega, pemilik Ghoib Garage yang khusus menangani modifikasi trail dan supermoto, fenomena ini makin nyata. Saat ditemui di Pondok Ranggon, Jakarta Timur, ia mengaku banyak pelanggan yang kini memilih konsep trail vintage.
"Kenapa sekarang beralih ke trail vintage? Karena mereka sudah bosan dengan tren sekarang. Jadi, mereka balik lagi nih ke tren di masa lalu, motor diubah jadi tua lagi," ujar Aldo.
Ia bilang, saat ini setidaknya ada dua aliran utama yang digemari: supermoto dan trail vintage. Yang terakhir ini punya ciri-ciri yang cukup mencolok.
Pertama, soal lampu. Ini jadi penanda paling kasat mata. Lampu depan trail vintage bentuknya 'nyeleneh', jauh berbeda dari desain lampu motor trail modern. Di jalanan, kamu pasti langsung bisa membedakannya.
Bentuknya biasanya bulat dan besar. Variannya macam-macam, ada yang pakai satu lampu LED bulat besar, ada yang pakai dua lampu bohlam besar mirip Honda XR era 90-an, atau bahkan lampu kotak ala Suzuki TS yang kesan klasiknya makin kuat.
Lalu, ada konfigurasi velg dan ban. Umumnya, velg depan 21 inci dan belakang 18 inci dengan ban dual purpose. Tapi, Aldo memberi catatan menarik.
"Ukuran wheelset tidak bisa jadi patokan utama trail vintage. Kalau kita tarik ke belakang, beberapa model vintage ada yang dari supermoto, bawaan aslinya pakai velg 16 inci dan 19 inci atau 17 inci dan 19 inci. Yang kelihatan kasat mata ya lampu tadi," jelasnya.
Jadi, jangan heran kalau melihat motor trail vintage dengan velg yang lebih kecil. Bisa jadi, modifikasinya berangkat dari basis supermoto yang kemudian dirombak total penampilannya.
Selain lampu, ada satu aksesori yang hampir selalu hadir: rak belakang. Rak ini bukan cuma buat gaya-gayaan. Fungsinya sangat praktis, bisa untuk mengikat jas hujan, tas, atau perlengkapan berkemah. Sekaligus, rak itu memperkuat kesan utilitarian dan petualangan yang melekat pada motor bergaya klasik ini.
Begitulah. Tren datang dan pergi, tapi selera akan nostalgia rupanya selalu punya tempat. Kini, motor-motor trail itu tak hanya diajak menerobos medan terjal, tapi juga menerobos waktu, membawa pengendaranya kembali ke era yang dianggap lebih sederhana.
Artikel Terkait
Maarten Paes Resmi Bisa Debut untuk Ajax Usai Izin Kerja Kelar
Menkeu Tegaskan Komitmen Tindak Impor Ilegal, Tiga Gerai Tiffany & Co Disegel Bea Cukai
Gubernur DKI Siapkan MTQ Berjenjang dan Haul Ulama Betawi untuk HUT Jakarta
Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Melebar, Lahan Warga Terkikis