Di bawah langit Florida yang cerah, Donald Trump kembali menyulut kontroversi. Dari Mar-a-Lago, resor mewahnya di Palm Beach, mantan Presiden AS itu mengulangi keinginannya yang terdengar mustahil: Amerika Serikat harus mengambil alih Greenland dari Denmark.
"Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan untuk mineral," ujar Trump kepada para wartawan. Suaranya, seperti biasa, penuh keyakinan.
Ia lalu melanjutkan dengan logika yang ia anggap sederhana. "Mereka bilang Denmark pemiliknya. Tapi Denmark tidak mengeluarkan uang dan tidak punya perlindungan militer," katanya. Pernyataannya itu mengabaikan fakta bahwa Denmark memang secara hukum bertanggung jawab penuh atas pertahanan dan keamanan pulau terbesar di dunia itu.
Namun begitu, Trump tampak serius. Baru pada Minggu lalu, ia mengumumkan penunjukan Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk urusan Greenland. "Kita harus memilikinya dan dia ingin memimpin upaya ini," jelas Trump tentang Landry.
Reaksinya bisa ditebak. Denmark dan sekutunya di Uni Eropa langsung menolak keras gagasan itu. Mereka bukan satu-satunya. Penduduk asli Greenland sendiri sudah bersuara lantang. Intinya jelas: pulau mereka bukan barang dagangan yang bisa diambil atau dibeli begitu saja.
Jadi, meski Trump terus mendorong, upayanya kali ini tampaknya akan berakhir seperti sebelumnya: sebuah impian yang jauh dari kenyataan.
Artikel Terkait
Prabowo Ingatkan Kader Gerindra Jaga Uang Rakyat, Tak Ada Perlindungan Bagi Pelanggar Hukum
Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2025 Lampaui Target, Capai 15,39 Juta
KPK Tetapkan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok Tersangka Suap Percepatan Eksekusi Lahan
KPK Tangkap Ketua PN Depok Terkait Suap Pengurusan Lahan Rp850 Juta