Bank Indonesia punya catatan penting soal penempatan dana pemerintah yang mencapai Rp200 triliun di perbankan. Kebijakan ini memang berhasil, tapi hasilnya tak merata. Likuiditas melonggar dan suku bunga dana turun, itu iya. Namun, dampaknya terhadap penurunan suku bunga kredit ternyata belum optimal. Masih ada jarak yang cukup lebar antara harapan dan realita di lapangan.
Menurut sejumlah saksi, penjelasan resmi datang dari Solikin M. Juhro, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI. Dia tak menampik bahwa dana segar itu membawa angin positif. Terutama untuk struktur pendanaan bank-bank negara, atau yang kita kenal sebagai Himbara.
"Apakah Rp200 triliun membantu penurunan suku bunga? Ya, pastilah. Dana itu membuat struktur dana di bank Himbara lebih fleksibel,"
Ucap Solikin dalam Taklimat Media di Gedung BI, Senin lalu.
Fleksibilitas itu memberi ruang. Ruang untuk menekan suku bunga dana atau simpanan. Inilah yang membedakan nasib bank Himbara dengan bank swasta. Di sisi lain, bank non-Himbara masih harus berjuang keras mencari Dana Pihak Ketiga di tengah persaingan yang ketat.
Namun begitu, Solikin bersikap jujur. Likuiditas ratusan triliun rupiah itu rupanya belum cukup kuat jadi stimulus. Belum mampu mendorong penurunan suku bunga kredit secara drastis di pasar yang lebih luas.
"Kalau dampaknya ke suku bunga dana sudah pasti. Tapi apakah itu cukup untuk mendorong (suku bunga) kredit? Belum. Fakta berbicara, survei membuktikan,"
Katanya lagi.
Data sepanjang 2025 bicara jelas soal kesenjangan ini. BI Rate sudah dipangkas tajam, 125 basis poin. Tapi transmisinya ke sektor riil berjalan sangat pelan, merangkak. Suku bunga dana merespons cepat karena likuiditas melimpah. Sebaliknya, suku bunga kredit hanya bergerak turun tipis, 24 basis poin saja. Dari 9,20 persen di awal tahun, menjadi 8,96 persen pada November.
Lambatnya penurunan ini, diakui Solikin, jadi tantangan berat. Baik bagi BI maupun untuk upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai instrumem makroprudensial sudah diaktifkan, likuiditas diperlebar. Tapi rupanya, mendorong bank untuk menurunkan bunga kredit butuh lebih dari sekadar suntikan dana. Butuh sesuatu yang lain.
Artikel Terkait
ICMSS ke-25 Soroti Pentingnya Ketahanan Mental dan Analisis Mendalam bagi Investor Muda
Pegadaian Targetkan Antrean Pengambilan Emas Fisik Tuntas Akhir Februari 2026
Prabowo dan Albanese Tandatangani Traktat Keamanan Bersama RI-Australia
BI Catat Cadangan Devisa Turun Jadi USD154,6 Miliar pada Januari 2026