Dari Genset ke Tenaga Surya: Koperasi di Pulau Sembur Laut Nyalakan Ekonomi Nelayan

- Senin, 22 Desember 2025 | 11:55 WIB
Dari Genset ke Tenaga Surya: Koperasi di Pulau Sembur Laut Nyalakan Ekonomi Nelayan

Sabtu lalu, di Kelurahan Galang Baru, Pulau Sembur Laut, Batam, suasana berbeda terasa. PT Pertamina, lewat anak usahanya Pertamina NRE, bersama Kementerian Koperasi akhirnya meresmikan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ini bukan sekadar acara seremonial belaka. Bagi sekitar 200 kepala keluarga di sana, hari itu menandai awal dari perubahan besar.

Selama ini, kehidupan mereka bergantung pada genset. Biayanya mahal, suaranya bising, dan keandalannya terbatas. Kini, hadir PLTS berkapasitas 400.000 Watt yang dilengkapi baterai penyimpan berkapasitas besar, mencapai 1 MWh. Listrik yang dihasilkan nantinya bakal memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Namun, manfaatnya dirancang untuk jauh lebih dari itu.

Kuncinya ada pada skema pengelolaannya. PLTS ini akan dioperasikan melalui kerjasama antara Pertamina NRE dengan Koperasi Merah Putih setempat. Melalui koperasi inilah, aliran listrik diarahkan untuk menggerakkan roda ekonomi warga. Misalnya, untuk mengoperasikan cold storage dan pembuat es berkapasitas besar yang sangat vital bagi nelayan di pulau itu.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan hal ini dalam sambutannya.

“PLTS ini bukan sekadar menghadirkan listrik, tetapi menjadi fondasi penguatan ekonomi rakyat. Dengan koperasi sebagai pengelola, masyarakat menjadi pelaku utama, bukan hanya penerima manfaat,” ujar Ferry.

Dia berharap model kolaborasi seperti ini bisa ditiru di daerah-daerah lain, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Tujuannya jelas: mendorong kemandirian energi sekaligus membuka keran pendapatan baru bagi anggota koperasi.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, melihat proyek percontohan ini sebagai bagian dari komitmen yang lebih luas. Bagi Pertamina, ini soal membangun sebuah ekosistem yang berkelanjutan.

“Pertamina tidak hanya membangun pembangkit, tetapi membangun ekosistem. Melalui PLTS yang dikelola koperasi, kami ingin memastikan energi bersih menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat,” kata Simon.

Dia menjelaskan, listrik yang andal dari Pertamina NRE ini akan secara langsung meringankan beban nelayan. Biaya operasional bisa ditekan, hasil tangkapan bisa disimpan lebih lama, dan peluang usaha baru pun bermunculan di tingkat desa. Semuanya berputar bersama.

Peluncuran itu juga dimatangkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina NRE dan Kementerian Koperasi. MoU itu menjadi payung hukum untuk pengembangan kerjasama serupa di masa depan.

Respon masyarakat? Sangat positif. Mereka yang merasakan langsung kesulitan tanpa listrik andal menyambut program ini dengan penuh harap.

“Semoga program ini bisa kami jalankan dengan baik, dan bermanfaat untuk ekonomi masyarakat,” ujar Karzaman, salah seorang warga Pulau Sembur.

Ke depan, proyek di Pulau Sembur Laut ini diharapkan jadi contoh nyata. Contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat akar rumput bisa bekerja. Tujuannya bukan cuma menyalakan lampu, tetapi juga menguatkan ekonomi desa dan memperkenalkan praktik energi bersih sebagai langkah konkret menuju target NZE 2060. Harapannya, terang yang kini menyala di Batam, bisa menyebar ke banyak tempat lain.

Komentar