PT Freeport Indonesia (PTFI) memprediksi bahwa capaian produksi dan penjualan mereka di akhir tahun 2025 nanti tak akan sesuai dengan yang direncanakan. Penyebabnya, dua musibah besar menghantam operasional perusahaan.
Menurut Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, insiden pertama adalah kebakaran yang melanda Smelter PTFI di paruh pertama tahun ini. Belum pulih benar, longsor kemudian mengguncang area tambang Grasberg Cave (GBC) pada 8 September 2025. Dua peristiwa ini benar-benar mengacaukan rencana.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Tony memaparkan angka-angka yang cukup menohok. Volume penjualan tembaga sepanjang 2025 diproyeksikan cuma menyentuh 537 ribu ton. Itu artinya hanya 70 persen dari target RKAB yang 770 ribu ton. Nasib serupa menimpa penjualan emas, yang diperkirakan cuma 33 ton separuh dari target 67 ton.
"Kebakaran di smelter kami di awal tahun langsung berdampak pada inventori konsentrat di Timika. Imbasnya, operasi penambangan terpaksa kami kurangi sampai sekitar 40 persen dari kapasitas normal di triwulan pertama," jelas Tony dalam rapat tersebut, Senin (24/11/2025).
Belum selesai urusan dengan smelter, kinerja di semester kedua kembali dihantam masalah. Luncuran material basah di Grasberg Block Cave (GBC) pada September lalu benar-benar memukul operasi. Perusahaan pun kesulitan mengejar ketertinggalan produksi yang sudah telanjur jauh.
"Insiden ini memaksa kami menghentikan produksi di tambang bawah tanah. Fokus kami waktu itu adalah mencari tujuh karyawan yang terperangkap. Hampir 50 hari produksi terhenti total," sambungnya.
Baru pada 28 Oktober, setelah melalui diskusi panjang dengan Kementerian ESDM, operasi tambang bawah tanah diizinkan berjalan kembali.
Meski begitu, Tony menegaskan bahwa Freeport tak tinggal diam. Langkah-langkah pemulihan baik di smelter maupun di area GBC terus digenjot agar produksi bisa kembali ke level normal.
Ada Angin Segar dari Harga Komoditas
Di tengah berita buruk soal produksi, ada secercah kabar baik. Pendapatan PTFI justru diproyeksikan melampaui target, meski volume jual turun. Mereka memperkirakan pendapatan mencapai USD4,1 miliar, atau 117 persen dari target USD3,7 miliar.
Penyelamatnya? Lonjakan harga emas dan tembaga di pasar global. Harga tembaga diproyeksikan 19 persen lebih tinggi dari asumsi RKAB, sementara harga emas bahkan melesat 80 persen lebih tinggi dari perkiraan semula.
Tony mengakui, kondisi ini membuat pendapatan Freeport Indonesia tetap kuat. Total penjualan diproyeksikan mencapai USD8,05 miliar. Memang masih 82 persen dari target awal USD10,4 miliar, tapi ini cukup melegakan di tengah turunnya produksi.
"Kalau kita lihat, produksi tembaga cuma 70 persen dari target, tapi pendapatannya bisa naik 19 persen, total jadi 119 persen. Untuk emas, proyeksi harga di RKAB cuma USD1.900 per ons, tapi kenyataannya masih bertahan di USD3.000 per ons. Makanya, pendapatan kami tetap tinggi meski produksi turun hampir separuh," papar Tony.
Jadi, meski produksi terpukul, gelombang kenaikan harga komoditas jadi penyeimbang yang menyelamatkan kondisi keuangan perusahaan.
Artikel Terkait
BNPB Mulai Operasi Modifikasi Cuaca di Jambi Cegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut
China Kembali Borong Emas, Cadangan Bank Sentral Tembus 19 Bulan Berturut-turut
PLN EPI Targetkan Bio-CNG dari Limbah Sawit untuk Perkuat Transisi Energi
Pedagang Cilok Tewas Bersimbah Luka di Kontrakan Tangerang, Polisi Tangkap Ayah dan Anak sebagai Terduga Pelaku