Longsor Cilacap Timbun Permukiman, BMKG Ungkap Faktor Cuaca Penyebabnya
Sebuah bencana tanah longsor melanda Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kejadian pada Kamis malam tersebut menyebabkan puluhan orang dilaporkan hilang. Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi sejumlah korban, sementara pencarian untuk korban lainnya masih terus dilakukan.
Penyebab Longsor Menurut Analisis BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa bencana ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi secara beruntun. Hujan lebat yang mengguyur kawasan Cilacap dalam beberapa hari berturut-turut menyebabkan kandungan air dalam tanah meningkat signifikan, sehingga lereng menjadi tidak stabil dan memicu pergerakan tanah.
Data dari Pos Hujan Majenang mencatat akumulasi hujan yang sangat tinggi pada tanggal 10 dan 11 November 2025, masing-masing sebesar 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari. Kondisi tanah yang sudah jenuh ini diperparah dengan hujan ringan berkelanjutan yang menjaga kelembapan tanah tetap tinggi hingga terjadi longsor.
Faktor Cuaca Skala Besar yang Memicu Hujan Ekstrem
BMKG menjelaskan bahwa pola cuaca di Jawa Tengah didukung oleh beberapa fenomena atmosfer berskala besar. Aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) yang sedang melintas, bersama dengan gelombang atmosfer lainnya, memperkuat proses pembentukan awan hujan di wilayah tersebut.
Pada skala yang lebih luas, terbentuknya pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa, membuat pertumbuhan awan hujan menjadi semakin intens. Kombinasi faktor-faktor ini mendorong terbentuknya awan konvektif yang menghasilkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang.
Tingginya Kelembapan Udara Picu Hujan Lebat
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan kondisi kelembapan udara yang sangat tinggi pada beberapa lapisan atmosfer. Nilai kelembapan mencapai 70–100 persen pada lapisan 850 mb, 700 mb, dan 500 mb. Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini merupakan faktor pendukung utama untuk pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, yang meningkatkan potensi hujan lebat secara signifikan.
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem dari BMKG
Berkaitan dengan kondisi cuaca ini, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca dan iklim ekstrem. Peringatan tersebut menyebutkan bahwa wilayah Cilacap, termasuk Kecamatan Majenang, berpotensi mengalami cuaca ekstrem pada periode 11–20 November 2025. BMKG juga memprediksi bahwa hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi kembali pada tanggal 19–22 November 2025.
Update Terkini Korban dan Operasi Pencarian
Berdasarkan data terbaru dari Tim SAR Gabungan, sebanyak 11 orang yang sebelumnya dinyatakan hilang telah berhasil dievakuasi. Sementara itu, proses pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan 12 korban lainnya yang masih hilang.
Operasi pencarian pada hari ketiga melibatkan 512 personel Tim SAR Gabungan, yang didukung oleh 9 anjing pelacak, 9 unit ekskavator, dan 9 unit pompa air. Upaya pencarian dilakukan secara intensif untuk menemukan korban yang masih tertimbun material longsor.
Artikel Terkait
Bapanas Temukan Pelanggaran HET Minyakita di Pasar Depok
Kevin Diks Pulih, Gladbach Andalkan Bek Kanan untuk Perbaiki Pertahanan di Freiburg
Pemerintah Buka Impor Ayam AS untuk Bibit, Janjikan Perlindungan Peternak Lokal
Pemerintah Serahkan SK HKM dan TORA untuk Lebih dari 650 Hektare Lahan kepada Petani Banyuwangi