Maya Susmita: Profil, Prestasi, dan Filosofi Pelatih Wanita Timnas Indonesia

- Kamis, 13 November 2025 | 16:24 WIB
Maya Susmita: Profil, Prestasi, dan Filosofi Pelatih Wanita Timnas Indonesia
Maya Susmita - Profil dan Perjalanan Karier Pelatih Sepak Bola Wanita Indonesia

Maya Susmita: Dedikasi Seorang Pelatih Sepak Bola Wanita di Solo

Meski namanya mungkin belum terlalu dikenal khalayak luas, Maya Susmita adalah sosok penting dalam perkembangan sepak bola wanita Indonesia, khususnya di kota Solo. Perempuan asal Karawang ini dikenal sangat aktif dalam membina dan melatih pemain-pemain muda.

Kini, Maya memegang peran strategis sebagai Head Coach untuk MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Solo Seri 1 untuk musim 2025/26. Turnamen ini merupakan ajang sepak bola wanita usia dini yang diselenggarakan untuk mengembangkan bakat-bakat muda.

Tak hanya berkecimpung di lapangan hijau, Maya Susmita juga berprofesi sebagai guru pendidikan jasmani di SDN 02 Malangjiwan, Colomadu. Menariknya, sekolah tempatnya mengajar turut serta berpartisipasi dalam kompetisi MLSC tersebut.

Perjalanan Awal Karier dari Pemain Menjadi Pelatih

Sebelum memutuskan untuk fokus di jalur kepelatihan, Maya lebih dahulu meniti karier sebagai pemain sepak bola. Ia memulai perjalanannya di Sekolah Sepak Bola (SSB) Putri Surakarta dan bahkan sempat membela klub PSS Sleman di Liga 1 sepak bola wanita pada tahun 2019.

Transisi dari pemain ke pelatih dilakoninya dengan serius. Maya menempuh pendidikan kepelatihan dengan mengambil lisensi D Nasional dan kemudian berhasil melanjutkan ke lisensi C berkat konsistensi dan dedikasinya yang tinggi di dunia kepelatihan. Ia menyelesaikan lisensi C-nya pada tahun 2020 dan setahun kemudian, yaitu pada 2021, ia memutuskan untuk fokus menekuni profesi sebagai pelatih. Saat ini, ia aktif melatih di Surakarta Football Academy (SFA).

Prestasi dan Pengalaman Kepelatihan Maya Susmita

Awal tahun 2025 menjadi momen penting ketika Maya ditunjuk untuk menukangi tim All-Stars Solo dalam ajang MilkLife Soccer Challenge All Stars yang diadakan di Kudus. Di bawah asuhannya, tim tersebut berhasil melaju hingga babak final sebelum akhirnya kalah dengan skor tipis 0-1 dari tim All-Stars Kudus.

Prestasinya berlanjut ketika beberapa bulan kemudian, Maya dipercaya menjadi asisten pelatih untuk tim MilkLife Shakers U-12 yang berlaga di turnamen JSSL Singapore 7's 2025 pada bulan Juli. Dalam perannya ini, ia mendampingi pelatih kepala Timo Scheunemann dan berhasil membawa timnya menjadi runner-up.

Lonjakan karier terjadi ketika Maya kemudian diangkat sebagai asisten pelatih untuk Timnas Wanita Indonesia U-16 yang berkompetisi di Piala AFF 2025 yang digelar di Solo. Bersama tim nasional, ia berhasil membawa Garuda Muda Pertiwi melangkah hingga ke babak semifinal.

Tak berhenti di situ, pengalaman internasionalnya bertambah dengan bergabung dalam kepelatihan Timnas Wanita Indonesia U-17 untuk Kualifikasi Piala Asia di Myanmar. Meski tim belum berhasil melaju ke putaran final, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan karier kepelatihannya.

Pendekatan dan Filosofi Melatih Pemain Muda

Dengan pengalaman panjangnya menangani pemain usia muda, Maya memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika psikologis anak-anak di lapangan. Ia paham betul kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menjadi sosok yang menyenangkan bagi para pemain.

Maya mengungkapkan bahwa filosofi kepelatihannya sangat menekankan pada aspek perkembangan dan pembinaan jangka panjang. Menurutnya, melatih anak-anak tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, meski dalam situasi tertentu diperlukan ketegasan. Penting untuk menyelipkan unsur permainan dalam sesi latihan agar para pemain tetap termotivasi.

Tantangan Utama dalam Melatih Pesepak Bola Wanita Muda

Maya mengidentifikasi beberapa tantangan khusus dalam melatih pemain sepak bola wanita usia muda. Aspek mental, menurutnya, seringkali menjadi faktor kritis yang terkadang terabaikan di level akar rumput.

Ia menuturkan bahwa sebelum memasuki dunia profesional, para pemain muda biasanya tidak terlalu terbebani. Namun, ketika mereka melihat kakak-kakak atau rekan sebayanya yang sudah bermain di tim nasional, muncul motivasi dan keinginan untuk berlatih lebih giat lagi.

Tantangan unik lainnya adalah mengelola suasana hati (mood) para pemain wanita agar tetap stabil. Maya menyadari bahwa pemain wanita cenderung mengalami perubahan mood yang lebih fluktuatif. Faktor kelelahan setelah seharian beraktivitas di sekolah juga mempengaruhi energi mereka saat latihan sore.

Oleh karena itu, peran pelatih juga harus mencakup menjadi mood booster bagi para pemain. Mulai dari model latihan, pemanasan, hingga suasana sesi latihan harus diciptakan menyenangkan terlebih dahulu agar para pemain dapat lebih fokus dalam menerima arahan dan materi latihan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar