Kepemimpinan PBNU Kembali ke Gus Yahya, Muktamar 35 Dijadwalkan 2026

- Jumat, 30 Januari 2026 | 11:50 WIB
Kepemimpinan PBNU Kembali ke Gus Yahya, Muktamar 35 Dijadwalkan 2026

Suasana di kantor PBNU, Kamis siang itu, tampak berbeda. Setelah berbulan-bulan diwarnai ketegangan, akhirnya ada titik terang. Rapat Pleno yang dipimpin langsung oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar telah menghasilkan keputusan penting. Intinya? PBNU memutuskan untuk mengembalikan kepemimpinan organisasi ke tangan KH Yahya Cholil Staquf.

Keputusan ini tak muncul tiba-tiba. Ia merupakan pengukuhan resmi dari hasil Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, akhir Desember lalu. Rupanya, jalan musyawarah dan kebijaksanaan para sesepuh berhasil menemukan solusi.

“Iya betul. Kepemimpinan PBNU kembali ke formasi awal sebagaimana Keputusan Muktamar Ke-34 NU di Lampung,”

Demikian penegasan Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori. Pernyataannya singkat, tapi punya bobot yang luar biasa. Ini sekaligus menandai berakhirnya babak ketidakpastian di tubuh organisasi Islam terbesar di tanah air itu.

Di sisi lain, rapat yang sama juga memutuskan jadwal Muktamar Ke-35 NU. Rencananya, pesta akbar NU itu akan digelar pada pertengahan tahun 2026, tepatnya di bulan Juli atau Agustus. Namun sebelum itu, ada dua agenda besar yang harus dilalui: Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar. Dua tahapan konstitusional ini sudah menjadi tradisi wajib dalam tubuh NU.

Ada satu hal lain yang patut dicatat. Rapat Pleno juga menerima pengembalian mandat dari KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum. Langkah ini berjalan lancar, tanpa gejolak berarti.

Namun begitu, pekerjaan rumah masih menumpuk. PBNU sepakat untuk meninjau ulang sejumlah surat keputusan organisasi. Terutama yang diterbitkan tanpa kelengkapan tanda tangan struktural. Mereka juga berkomitmen memperbaiki tata kelola, mulai dari administrasi hingga keuangan. Prinsipnya jelas: transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan.

Pada akhirnya, semua keputusan ini punya satu pesan yang kuat. Seluruh persoalan internal yang sempat mengemuka, berhasil diselesaikan lewat jalur yang tepat. Musyawarah, hikmah para kiai, dan mekanisme organisasi yang sah ternyata masih menjadi senjata ampuh. Kini, NU tampaknya siap melangkah lagi ke depan dengan formasi yang sudah dikenal publik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar