Dengan peralihan itu, Tony memprediksi akan muncul dinamika baru. Pertarungan gagasan, tukar-menukar ide, bahkan kritik dan konflik politik dipastikan bakal menghiasi panggung tersebut.
"Panggung Prabowo akan ramai dan panggung Jokowi berangsur sepi," katanya. Ia menambahkan, hal semacam ini sebenarnya wajar saja. "Ini hukum sejarah dan sesuatu yang normal dalam konstalasi politik."
Lantas, bagaimana kelanjutannya? Tony berpendapat, rakyat lambat laun akan bisa menilai sendiri. Apakah panggung Prabowo akan tetap harum di tahun-tahun mendatang, atau justru sebaliknya terutama jika respons terhadap kritik publik malah bersifat kontra-produktif.
Ia pun mengajukan beberapa perbandingan. "Apakah Prabowo tampil seperti SBY yang dirindukan rakyat jelang pemilihan untuk periode keduanya? Atau seperti Megawati yang tak terpilih, atau Jokowi yang harus berdarah-darah ketika menghadapi pemilu untuk periode keduanya?"
Pertanyaan itu ia lontarkan sebagai renungan, sekaligus penutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir