Dengan peralihan itu, Tony memprediksi akan muncul dinamika baru. Pertarungan gagasan, tukar-menukar ide, bahkan kritik dan konflik politik dipastikan bakal menghiasi panggung tersebut.
"Panggung Prabowo akan ramai dan panggung Jokowi berangsur sepi," katanya. Ia menambahkan, hal semacam ini sebenarnya wajar saja. "Ini hukum sejarah dan sesuatu yang normal dalam konstalasi politik."
Lantas, bagaimana kelanjutannya? Tony berpendapat, rakyat lambat laun akan bisa menilai sendiri. Apakah panggung Prabowo akan tetap harum di tahun-tahun mendatang, atau justru sebaliknya terutama jika respons terhadap kritik publik malah bersifat kontra-produktif.
Ia pun mengajukan beberapa perbandingan. "Apakah Prabowo tampil seperti SBY yang dirindukan rakyat jelang pemilihan untuk periode keduanya? Atau seperti Megawati yang tak terpilih, atau Jokowi yang harus berdarah-darah ketika menghadapi pemilu untuk periode keduanya?"
Pertanyaan itu ia lontarkan sebagai renungan, sekaligus penutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Eggi Sudjana Minta Jokowi Bantu Cabut Cekal untuk Berobat ke Luar Negeri
Pertemuan di Solo: Kunjungan Tersangka ke Rumah Ayah Gibran Picu Tafsir Politik
Kunjungan Tersangka ke Solo Picu Sindiran Tajam: Ada Pejuang, Ada Pecundang
Roy Suryo Geram Disingkirkan dari Pertemuan Eggi-Jokowi di Solo