Lebih dari Sekadar Rasa Manis: Filosofi Tersembunyi di Balik Kue Keranjang Imlek

- Rabu, 28 Januari 2026 | 12:45 WIB
Lebih dari Sekadar Rasa Manis: Filosofi Tersembunyi di Balik Kue Keranjang Imlek
Makna Kue Keranjang di Balik Rasa Manisnya

Imlek 2026 tinggal menunggu waktu, tepatnya pada 17 Februari nanti. Di tengah hiruk-pikuk persiapan, ada satu hal yang selalu hadir: kue keranjang. Kue ini bukan sekadar camilan manis, lho. Ia menyimpan segudang harapan dan cerita yang diturunkan berabad-abad.

Dalam bahasa Mandarin, kue keranjang disebut nian gao. Kata gao yang berarti kue, bunyinya mirip dengan kata 'tinggi'. Nah, dari sini lah filosofi pertamanya muncul. Makan kue ini diharapkan membawa tahun yang "lebih tinggi" entah itu rezeki, jabatan, atau umumnya kehidupan yang lebih baik.

Rasa manisnya punya maksud sendiri. Kim Hin Jauhari, pemilik usaha kue keranjang Hoki di Depok, punya penjelasan menarik.

"Kue keranjang ini kan dibuat dari gula, ketan dan juga air. Jadi, dalam kue keranjang itu memiliki filosofi yang begitu erat dalam kehidupan kita," jelasnya.

Bagi dia, rasa manis itu adalah doa agar tahun baru diisi dengan hal-hal positif, dari rezeki hingga keharmonisan keluarga.

Kalau diperhatikan, teksturnya itu kenyal banget dan lengket. Susah dipotong! Tapi justru di situlah maknanya. Kelengketan itu dianggap bisa merekatkan hubungan antaranggota keluarga dan saudara. Makanya, menyantapnya bersama saat kumpul keluarga jadi momen yang spesial.

Bentuknya yang bulat juga bukan tanpa alasan. Bulat melambangkan keutuhan dan kesatuan. Bukan cuma dalam lingkup keluarga inti, tapi juga dengan tetangga dan masyarakat sekitar. Itu sebabnya, kue keranjang sering dibagi-bagikan saat Imlek sebagai simbol kebersamaan.

Namun begitu, kisah paling menarik justru datang dari sejarahnya yang gelap. Konon, tradisi ini sudah berusia 2.500 tahun. Ceritanya bermula dari masa kerajaan Wu, usai sang jenderal Wu Zixu meninggal. Kota itu dikepung musuh, rakyatnya kelaparan.

Dalam keputusasaan, seorang warga teringat pesan almarhum jenderal.

"Jika negara ini terjebak masalah dan rakyat kelaparan, pergilah dan galilah sedalam 3 kaki di bawah tembok kota. Kalian akan mendapatkan makanan di sana."

Mereka menggali. Dan betapa terkejutnya, fondasi tembok kota ternyata terbuat dari bata tepung ketan yang bisa dimakan! Bahan itulah yang menyelamatkan mereka dari kelaparan. Sejak saat itu, untuk mengenang jasa Wu Zixu, masyarakat membuat kue dari tepung ketan setiap tahun. Lambat laun, ia berevolusi jadi kue keranjang yang kita kenal sekarang, dan menjadi sajian wajib Imlek.

Jadi, kue keranjang itu lebih dari sekadar kue. Ia adalah simbol harapan, perekat hubungan, dan pengingat akan ketahanan di masa sulit. Selamat menyambut Imlek 2026 semoga tahun ini membawa kebaikan yang "lebih tinggi" untuk kita semua.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler