Ricky Pratama Pulang ke Surabaya, Reuni dengan Pelatih Bernardo Tavares di Persebaya

- Kamis, 25 Juni 2026 | 16:00 WIB
Ricky Pratama Pulang ke Surabaya, Reuni dengan Pelatih Bernardo Tavares di Persebaya

Ada pelatih yang hanya singgah dalam karier seorang pemain. Ada pula yang mengubah arah perjalanannya. Bagi winger muda Ricky Pratama, sosok itu adalah Bernardo Tavares. Pelatih asal Portugal tersebut menjadi orang pertama yang memberinya kepercayaan untuk tampil di level senior, saat namanya belum dikenal luas dan ia masih berjuang menembus ketatnya persaingan sepak bola profesional Indonesia. Kini, setelah perjalanan itu dimulai di Makassar, keduanya kembali dipertemukan di Surabaya.

Persebaya Surabaya resmi mengumumkan kedatangan Ricky Pratama untuk menghadapi musim 2026/2027. Pemain berusia 23 tahun itu menandatangani kontrak jangka panjang dan menjadi bagian dari proyek anyar Green Force di bawah komando Bernardo Tavares. Bagi Ricky, kepindahan dari PSM Makassar ini bukan sekadar soal menit bermain atau faktor finansial. Ada cerita yang lebih personal di balik keputusannya: tentang pulang ke kota kelahirannya, dan tentang kesempatan kembali bekerja dengan pelatih yang membuka jalan kariernya.

“Coach Bernardo Tavares juga menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan saya. Beliau adalah pelatih yang pertama kali memberi kesempatan kepada saya untuk bermain di level senior,” ujar Ricky.

Jalan yang ia tempuh tidaklah mudah. Sebagai pemain muda, Ricky pernah menjadi salah satu talenta yang berusaha mencari tempat di tengah kerasnya persaingan. Kesempatan itu akhirnya datang ketika Tavares mempercayainya di PSM Makassar. Di bawah arahan pelatih asal Portugal tersebut, ia perlahan berkembang tidak hanya mendapatkan menit bermain, tetapi juga pemahaman baru tentang sepak bola profesional, mulai dari disiplin, taktik, hingga tuntutan permainan modern.

“Tidak hanya memberi kesempatan bermain, beliau juga membantu perkembangan saya sebagai pemain,” kata Ricky.

Kepercayaan itu menjadi titik balik. Dari pemain muda yang berusaha bertahan di skuad utama, Ricky tumbuh menjadi salah satu pemain yang mendapat perhatian di level nasional. Namanya mulai masuk ke berbagai kelompok usia Timnas Indonesia: U-19, U-22, hingga akhirnya membela Timnas Indonesia U-23. Perjalanan itu menjadi bukti bahwa kesempatan pertama yang diberikan Bernardo Tavares tidak sia-sia.

Namun sepak bola selalu bergerak maju. Setelah melalui berbagai musim bersama PSM Makassar, Ricky kini memasuki babak baru. Persebaya Surabaya menjadi pelabuhan berikutnya. Bukan klub asing baginya. Sebagai putra asli Sidoarjo, ia tumbuh akrab dengan atmosfer Green Force. Ada kebanggaan tersendiri ketika seorang pemain bisa membela tim yang mewakili daerah tempat ia tumbuh, bermain di hadapan keluarga, sahabat, dan ribuan pendukung yang berasal dari lingkungan yang sama.

Meski demikian, tantangan yang menanti tidak ringan. Persebaya datang dengan ambisi besar musim depan, dan persaingan di dalam skuad dipastikan berlangsung ketat. Bernardo Tavares tidak pernah dikenal sebagai pelatih yang memberikan tempat utama hanya karena kedekatan personal. Sebaliknya, ia sangat mengutamakan kerja keras dan disiplin. Ricky tetap harus membuktikan kualitasnya dari nol.

Tavares sendiri memahami betul karakter pemain yang direkrutnya. Menurut pelatih berusia 46 tahun itu, salah satu keunggulan Ricky adalah fleksibilitasnya. “Ricky merupakan pemain asal Surabaya yang memiliki kemampuan bermain di beberapa posisi. Saya pernah bekerja sama dengannya sebelumnya dan mengetahui kualitas yang dimilikinya,” ujar Tavares. Kemampuan tersebut menjadi aset penting dalam sepak bola modern. Ricky bisa bermain sebagai winger kanan, winger kiri, bahkan menjadi pemain pendukung di belakang penyerang utama. Mobilitas dan kecepatannya membuatnya mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kebutuhan taktik.

Selain pengalaman di kompetisi domestik, Ricky juga memiliki jam terbang di level internasional. Ia pernah tampil dalam berbagai pertandingan regional dan Asia bersama klub sebelumnya. Pengalaman menghadapi tekanan pertandingan internasional menjadi modal yang tidak dimiliki semua pemain seusianya. Namun statistik dan pengalaman hanya menjadi bagian dari cerita. Yang paling penting adalah apa yang akan dilakukan Ricky mulai musim depan.

Musim terakhirnya tidak berjalan sesuai harapan. Kesempatan bermain yang berkurang membuat kontribusinya tidak sebesar musim-musim sebelumnya. Situasi itu menjadi salah satu alasan mengapa ia membutuhkan tantangan baru. Persebaya menawarkan kesempatan tersebut. Kini semuanya bergantung pada dirinya sendiri. Bernardo Tavares telah membuka pintu. Manajemen Persebaya telah memberikan kepercayaan. Suporter Green Force menaruh harapan. Sisanya harus dijawab di atas lapangan.

Ricky pun menyadari hal itu. “Target pribadi saya musim ini adalah mendapatkan lebih banyak menit bermain, berkontribusi maksimal untuk Persebaya, dan memperbaiki performa yang musim lalu belum sesuai harapan saya,” ujarnya.

Di usia 23 tahun, karier seorang pesepak bola sebenarnya masih berada di tahap awal. Masih banyak ruang untuk berkembang, masih banyak mimpi yang bisa dikejar. Bagi Ricky Pratama, kepindahan ke Persebaya bukanlah akhir dari perjalanan yang dimulai di Makassar. Sebaliknya, ini adalah awal dari babak baru. Sebuah cerita tentang pemain yang pulang ke kampung halamannya, membawa bekal pengalaman dari PSM Makassar, lalu kembali dipertemukan dengan pelatih yang pernah membuka jalan kariernya. Kini, Surabaya menjadi panggung berikutnya. Dan di kota kelahirannya sendiri, Ricky Pratama memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang pernah diberikan Bernardo Tavares bertahun-tahun lalu memang layak diperjuangkan hingga hari ini.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.