MURIANETWORK.COM - PSIS Semarang mengukuhkan Ibrahim Sanjaya sebagai rekrutan ke-17 mereka pada bursa transfer paruh Championship musim 2025/2026. Bek kanan berpengalaman itu didatangkan dengan status pinjaman dari Persik Kediri untuk memperkuat lini belakang Mahesa Jenar yang dinilai masih minim opsi. Langkah ini semakin menegaskan gelagat ambisius sekaligus "ugal-ugalan" manajemen klub yang tengah berjuang menghindari degradasi dari posisi ke-9 Grup B.
Solusi untuk Sektor Pertahanan
Kedatangan Ibrahim Sanjaya bukan tanpa alasan yang mendesak. Sektor pertahanan, khususnya di sisi kanan, menjadi salah satu titik lemah yang perlu segera ditambal di tengah persaingan ketat Championship. Pemain yang pernah membela Persis Solo ini diharapkan bisa membawa pengalaman dan stabilitas segera.
Antusiasme pun terlihat dari sang pemain. Ibrahim menyambut positif tantangan baru di Semarang ini.
"Pastinya saya senang datang ke sini. Begitu gabung, teman-teman di sini langsung welcome dengan saya. Saya akan memberikan yang terbaik untuk tim agar bagaimana nanti tim ini bisa tetap bertahan," tuturnya dalam rilis resmi klub, Jumat (6/2/2026).
Strategi Manajemen Menghadapi Tekanan
Di balik layar, manajemen PSIS pimpinan Asisten Manajer Reza Handhika menjelaskan logika di balik perekrutan besar-besaran ini. Menurutnya, selain untuk menutupi kebutuhan spesifik di posisi tertentu, gelombang pemain baru ini juga ditujukan untuk menciptakan dinamika kompetisi yang sehat di dalam skuad.
"Kami resmikan Ibrahim Sanjaya menjadi pemain baru PSIS Semarang. Dirinya berstatus pinjaman dan alasan perekrutannya adalah karena kami masih minim pemain di pos bek kanan," jelas Reza.
Ia melanjutkan, "Harapannya dengan kedatangan Ibrahim, tim pelatih jadi punya opsi lebih banyak di posisi itu dan pemain yang sudah ada dapat bersaing secara sehat dan kompetitif."
Menyatukan Skuad di TC Yogyakarta
Membawa 17 pemain baru tentu bukan perkara mudah. Tantangan terbesarnya adalah membangun chemistry dan pemahaman taktik kolektif dalam waktu yang terbatas. Menyadari hal itu, PSIS segera membawa seluruh skuad untuk menjalani Pemusatan Latihan (TC) intensif di Yogyakarta sejak 4 Februari 2026.
TC ini menjadi momen krusial untuk menyatukan visi dan pola permainan sebelum menjalani laga-laga krusial putaran ketiga Championship. Situasinya semakin unik karena hingga kini PSIS belum mengumumkan pengganti pelatih kepala Jafri Sastra.
Kecerdikan Teknis di Tengah Regulasi
Meski kursi pelatih kepala masih kosong, klub telah bertindak cepat dengan menunjuk Alfredo Vera sebagai Direktur Teknik. Langkah ini oleh banyak pengamat dilihat sebagai siasat cerdik untuk menjaga kualitas taktik dan metodologi latihan berstandar tinggi, sekaligus mematuhi regulasi liga yang melarang pelatih asing di fase Championship. Pola serupa pernah terlihat pada kolaborasi di klub lain, menunjukkan tren adaptasi taktis di kancah sepak bola Indonesia.
Sebuah Taruhan Besar di Tengah Krusialnya Championship
Merekrut 17 pemain dalam satu jendela transfer adalah langkah yang terbilang ekstrem, sebuah gambaran nyata dari situasi darurat sekaligus ambisi besar. Di satu sisi, ini menunjukkan komitmen finansial dan teknis klub untuk segera berbenah. Di sisi lain, ini adalah sebuah perjudian yang risikonya tidak kecil.
Waktu adalah musuh terbesar. PSIS tidak memiliki kemewahan untuk melalui proses trial and error yang panjang. Setiap pertandingan di sisa musim ini ibarat final yang menentukan nasib. Jika gagal menyatukan semua potensi baru dengan cepat, tumpukan pemain berkualitas justru berpotensi menjadi beban koordinasi di lapangan. Kesuksesan atau kegagalan strategi "all-in" ini akan segera teruji di lapangan hijau.
Artikel Terkait
PSM Makassar Kejar Tenggat, Nasib Boboev dan Lagator Ditentukan dalam Hitungan Jam
PSM Makassar Dihukum Denda Rp60 Juta Usai Insiden Suporter Turun ke Lapangan
PSM Hajar PSBS 5-0, Alex Tanque Cetak Hattrick
Manchester United Hadapi Tottenham di Old Trafford, Uji Momentum Positif Carrick Lawan Catatan Buruk