Dahlan juga menyoroti kesulitan adaptasi pelatih baru dan masalah disiplin yang menggerus kekuatan tim. “Mungkin Tomas Trucha belum menemukan format yang pas. Hampir di setiap laga selalu ada pemain inti yang absen karena akumulasi kartu atau sanksi,” tambahnya.
Pendapat senada datang dari mantan pelatih PSM, Syamsuddin Umar. Ia menilai tim kehilangan identitas permainan yang dulu dibangun dengan rapi. “PSM sebenarnya sudah punya kekuatan taktik, baik saat menyerang maupun bertahan. Itu dibentuk oleh Bernardo Tavares. Namun belakangan ini, identitas itu seolah hilang,” ujarnya.
Menurut Syamsuddin, pembenahan mendesak justru terletak pada aspek non-teknis. “PSM harus lebih siap dalam masa latihan. Mental pemain dan chemistry tim perlu diperkuat untuk menghidupkan kembali jiwa kompetitif,” tegasnya.
Pertaruhan Harga Diri di Sleman
Dengan posisi di peringkat 13 klasemen dan hanya mengumpulkan 20 poin, tiga angka dari laga ini sangat vital untuk menjauhkan PSM dari zona merah. Lebih dari sekadar poin, laga ini adalah ujian karakter.
Syamsuddin Umar berharap nilai-nilai lokal dapat menjadi penyemangat. “Militansi pemain sangat penting. Mereka harus menunjukkan arti dari siri’ na pacce di lapangan,” pungkasnya.
Pertandingan melawan PSBS Biak akhirnya lebih dari sekadar pertandingan biasa. Ini adalah barometer nyata untuk mengukur apakah PSM Makassar masih memiliki tenaga dan jiwa untuk bertahan, atau akan terus terpuruk dalam ketidakpastian di papan bawah klasemen. Jawabannya hanya akan terlihat di lapangan hijau Maguwoharjo.
Artikel Terkait
Marco Bezzecchi Raih Kemenangan Dominan di MotoGP Brasil 2026
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Podium Perdana Indonesia di Moto3 Brasil
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Naik Podium MotoGP
Mario Suryo Aji Akhirnya Kantongi Poin Pertama di Moto2 2026