FORKI Sulsel Resmi Diperkuat, Target Emas PON 2028 Dicanangkan

- Kamis, 29 Januari 2026 | 15:30 WIB
FORKI Sulsel Resmi Diperkuat, Target Emas PON 2028 Dicanangkan

Suasana di Hotel Claro Makassar Kamis lalu cukup berbeda. Ruangannya dipenuhi para tokoh olahraga, dari seragam dinas hingga batik resmi. Mereka berkumpul untuk satu acara penting: pelantikan pengurus baru Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Sulawesi Selatan. Di antara yang hadir, tampak Ketua Umum KONI Sulsel, Darmawangsyah Muin, yang juga Wakil Bupati Gowa.

Dalam sambutannya, Darmawangsyah punya harapan besar untuk kepengurusan baru ini. Ia mendorong agar pembinaan atlet karate di daerah ini terus berjalan, tidak boleh berhenti. Bukan cuma atlet, perhatian serius juga harus diberikan pada kualitas wasit dan juri. Menurutnya, dua hal ini krusial.

"Kita berharap di era kepemimpinan Kakanda Amir Uskara ini, prestasi atlet-atlet Sulsel semakin meningkat," ujar Darmawangsyah.

"Terutama penyiapan wasit dan juri yang kompeten dan profesional," tambahnya.

Alasannya jelas. Dengan perangkat pertandingan yang objektif dan profesional, potensi baru atlet bisa muncul. Karakter mereka juga akan terbentuk dengan lebih baik. Karate, bagaimanapun, adalah olahraga unggulan Sulsel yang prestasinya sudah tak diragukan lagi, termasuk di berbagai ajang PON.

Target besarnya pun jelas. Darmawangsyah menyebut PON 2028 di NTB dan NTT. Ambisi KONI Sulsel adalah menembus 10 besar klasemen medali nasional. Mimpi itu, katanya, hanya bisa tercapai lewat kolaborasi yang solid.

"Kolaborasi dengan KONI Sulsel dalam pembinaan atlet dan pembangunan karakter, sehingga mampu melahirkan atlet berpotensi emas dan target tersebut dapat tercapai," pungkasnya.

Nada serupa datang dari Ketua Umum PB FORKI, Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto. Ia hadir langsung dan bicara blak-blakan. Baginya, profesionalisme wasit dan juri adalah kunci. Ia berharap kepemimpinan baru Amir Uskara bisa membawa perbaikan manajemen dan sistem perwasitan.

"Permasalahan kita selama ini adalah ego sektoral," tegas Hadi Tjahjanto.

"Padahal, tanpa ego tersebut kita sebenarnya memiliki peluang besar tampil di ajang internasional. Salah satu kendala utama adalah wasit dan juri yang masih tendensius. Ini harus dibenahi. Wasit dan juri harus profesional agar kejuaraan berjalan adil dan melahirkan atlet terbaik," lanjut mantan Menko Polhukam itu.

Ia juga mendesak agar konsolidasi organisasi segera dilakukan, merata hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Sejarah karate Sulsel, ia akui, sangat gemilang. Prestasi emas di PON Aceh-Sumut, Jawa Barat, hingga Papua menjadi buktinya. Dengan dukungan penuh dari KONI dan Dispora Sulsel, ia yakin atlet daerah bisa melangkah lebih jauh, bahkan ke kancah internasional.

Lalu, bagaimana dengan sang ketua baru? Amir Uskara, yang resmi dilantik hari itu, menyatakan komitmennya. Ia ingin FORKI Sulsel bergerak maju secara berkesinambungan, berkontribusi nyata dalam pembinaan atlet, pelatih, dan organisasi.

Faktanya, atlet karate Sulsel sudah sering mewakili Indonesia di luar negeri. Itu modal yang bagus.

"Apa yang telah ditorehkan selama ini akan kami pertahankan dan tingkatkan ke depan," janji Amir.

Ia juga menekankan harmoni. Di Sulsel, sembilan dari 25 perguruan karate di Indonesia aktif berkegiatan. Menjaga hubungan baik antar perguruan itu penting. Fokusnya bukan semata medali, tapi juga karakter atlet yang disiplin dan punya integritas.

"Terima kasih atas kehadiran serta arahan Ketua Umum PB FORKI dan jajaran pengurus pusat. Ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk membangun FORKI Sulsel lebih baik," tutupnya.

Acara pelantikan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pejabat penting. Mulai dari Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Kepala Dispora Sulsel Suherman, Sekda Barru, hingga para pengurus FORKI dari kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Mereka semua menyaksikan sebuah babak baru dimulai.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar