Mimpi Persib Tersandung Ajax: Maarten Paes Pilih Eropa, Bukan Bandung

- Rabu, 28 Januari 2026 | 22:00 WIB
Mimpi Persib Tersandung Ajax: Maarten Paes Pilih Eropa, Bukan Bandung

BANDUNG Mimpi itu sempat mengudara. Persib Bandung dikabarkan ingin memboyong Maarten Paes, kiper andalan Timnas Indonesia. Tapi, seperti sering terjadi dalam sepak bola, mimpi harus berhadapan dengan realitas. Dan realitasnya kali ini bernama Ajax Amsterdam.

Klub legendaris Belanda itu hampir pasti mendapatkan tanda tangan Paes. Menurut kabar yang beredar dari jurnalis transfer ternama, Fabrizio Romano, kesepakatan dengan FC Dallas sudah di depan mata. Kiper berusia 29 tahun itu dikabarkan akan dikontrak panjang, hingga musim panas 2029. Tinggal urusan medis dan dokumen yang perlu diselesaikan.

“Ajax menyepakati kesepakatan untuk mendatangkan Maarten Paes dari FC Dallas, transfer permanen. Kontrak hingga 2029. Tes medis akan dilakukan setelah dokumen dirampungkan oleh agen SEG, Boy Kuijpers,”

Begitu kicauan Romano di media sosialnya. Kabar ini, tentu saja, secara halus menutup pintu bagi harapan Persib. Wacana yang sempat hangat itu akhirnya meredup. Bukan karena tidak ada niat, tapi lebih karena tarikannya tidak seimbang.

Ya, jurang prestise antara Liga Indonesia dan Ajax Amsterdam memang terlalu dalam. Maarten Paes bukan kiper biasa. Dia sudah terbiasa berjibaku di Major League Soccer (MLS), pernah berhadapan langsung dengan Lionel Messi. Level kompetisi dan panggungnya jelas berbeda. Jadi, ketika Ajax datang dengan tawaran bermain di Eredivisie dan berpeluang menyentuh Liga Champions, pilihannya menjadi sangat jelas. Bahkan, kabarnya Feyenoord juga tertarik, tapi Paes memilih Ajax. Alasannya sederhana: sejarah dan magnet klub itu jauh lebih kuat.

Lantas, apakah posisinya di Amsterdam langsung aman? Tidak juga.

Di bawah mistar gawang Ajax saat ini ada Vitezslav Jaros, kiper pinjaman dari Liverpool yang jadi pilihan utama. Ada juga Remko Pasveer, kiper senior yang penuh pengalaman. Tapi situasi ini cuma sementara. Jaros akan balik ke Inggris, sementara Pasveer dikabarkan akan gantung sepatu. Artinya, peluang untuk jadi nomor satu terbuka lebar. Sebuah prospek yang sangat menggoda dan sulit ditolak.

Dan inilah yang mungkin jadi daya tarik terbesarnya: peluang menciptakan sejarah. Jika semua berjalan mulus, Paes berpotensi menjadi pemain Indonesia pertama yang berlaga di Liga Champions Eropa. Memang, performa Ajax musim ini kurang bagus. Mereka terancam tersingkir lebih dulu. Tapi siapa yang tahu musim depan? Jika Ajax kembali lolos dan Paes jadi andalan, maka sejarah itu akan tertulis namanya.

Menariknya, aroma Indonesia di Ajax semakin tercium. Sebelum Paes, Denny Landzaat mantan asisten pelatih Timnas Indonesia sudah lebih dulu bergabung di skuat kepelatihan. Belum lagi Jordi Cruyff, direktur baru Ajax, yang masih aktif sebagai penasihat teknis PSSI. Kombinasi ini seperti membentuk sebuah ekosistem kecil. Kehadiran Paes bukan cuma soal transfer pemain, tapi juga pertanda bahwa pengaruh sepak bola Indonesia mulai merambah jantung Eropa.

Lalu, apa pelajaran untuk Persib?

Kegagalan ini seharusnya jadi pengingat yang jujur. Ada batas yang, untuk saat ini, masih sulit ditembus oleh klub sekaliber apa pun di Indonesia. Bukan cuma soal finansial, tapi lebih ke level kompetisi dan peta karier seorang pemain. Sementara bagi Maarten Paes, langkah ke Ajax adalah lompatan logis. Dari menghadapi Messi, kini dia membidik panggung tertinggi di Eropa. Semuanya bermuara pada satu hal: prestise. Dan dalam sepak bola modern, itu seringkali menjadi penentu utama.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar