Kaka sendiri mengonfirmasi minat sang legenda.
“Suatu kali ia ingin merekrut saya dan saudara saya ketika kami masih bersama Milan, tetapi kami memilih untuk tetap tinggal,” kenangnya.
Di sisi lain, Ferguson punya favorit pribadi. Zinedine Zidane ia akui brilian, tapi hati pelatih Skotlandia itu lebih condong pada Paolo Maldini. Bukan tanpa alasan. Ferguson terpukau oleh kehadiran, semangat kompetitif, dan pengaruh besar bek legendaris AC Milan itu, meski secara teknis Maldini mungkin tak selalu yang terbaik.
Cerita Ferguson dan Kaka punya epilog yang manis. Di tahun 2024 ini, keduanya bertemu kembali. Kaka membagikan foto pertemuan itu di media sosial, disertai kalimat singkat penuh hormat.
“Setiap percakapan adalah pelajaran, terima kasih Tuan Ferguson!” tulisnya.
Jadi, meski tak terkesan dengan permainannya di lapangan, Ferguson rupanya tetap meninggalkan kesan mendalam bagi Kaka sebagai seorang guru. Begitulah sepak bola, penilaiannya kadang tak melulu soal gol atau trofi.
Artikel Terkait
Mandalika, Kutukan Marquez, dan Comeback Brasil di Kalender MotoGP 2026
Puig: Marquez Lebih dari Sekadar Juara, Ia Teladan Olahraga Dunia
Hodak Minta Penyesuaian Jadwal Liga Demi Persiapan Hadapi Ratchaburi di ACL
Tahun 2026, Kalender Padat Menanti Para Petarung Bulu Tangkis Indonesia