Ferguson dan Kaka: Kisah Ballon dOr yang Tak Membekas di Hati Sang Legenda

- Kamis, 01 Januari 2026 | 14:45 WIB
Ferguson dan Kaka: Kisah Ballon dOr yang Tak Membekas di Hati Sang Legenda

Sir Alex Ferguson dan Pemenang Ballon d'Or yang Tak Membekas di Hatinya

Manchester - Sir Alex Ferguson punya standarnya sendiri. Selama 26 tahun memimpin Manchester United, pria legendaris itu lebih sering bicara soal kerja tim ketimbang kehebatan individu. Tapi, sebagai pelatih yang sudah melihat segalanya, ia punya pendapat pribadi tentang para pemain bintang. Salah satunya soal pemenang Ballon d’Or.

Hanya satu pemainnya yang pernah meraih penghargaan individu tertinggi itu: Cristiano Ronaldo, di tahun 2008. Saat itu, Ronaldo cetak 31 gol, bawa United juara Liga Premier, dan juga bikin gol di final Liga Champions lawan Chelsea. Ferguson bahkan pernah bilang, ia lebih kagum pada Ronaldo dibanding Lionel Messi. Alasannya? Ronaldo dianggap bisa beradaptasi di level mana pun, sementara Messi, dalam pandangannya, “adalah pemain Barcelona.”

Namun begitu, ternyata bukan cuma Messi yang gagal memikat hatinya. Ada satu nama lain.

“Ketika saya memikirkan generasi saat ini, Lionel Messi berada di level teratas dan, meskipun dia tidak pernah membuat saya terkesima, Kaka telah membuat saya terkesan,” ujar Ferguson dalam sebuah wawancara dengan TalkSport.

Ya, Kaka. Gelandang asal Brasil yang menyabet Ballon d’Or pada 2009 itu, menurut Ferguson, tak pernah benar-benar membuatnya terkesan. Padahal, Kaka adalah bintang dunia di masanya.

Pernyataan ini cukup menarik. Soalnya, sejarah pertemuan mereka justru didominasi oleh aksi sang pemain. Kaka hanya dua kali berhadapan dengan tim Ferguson, tapi ia sukses mencetak tiga gol. Dua di antaranya ia ciptakan di Old Trafford, yang berujung pada tersingkirnya Manchester United dari Liga Champions 2007. Performa gemilang itu bahkan sempat membuat Ferguson berniat merekrutnya dari AC Milan, sebelum akhirnya Kaka memilih hengkang ke Real Madrid.

Kaka sendiri mengonfirmasi minat sang legenda.

“Suatu kali ia ingin merekrut saya dan saudara saya ketika kami masih bersama Milan, tetapi kami memilih untuk tetap tinggal,” kenangnya.

Di sisi lain, Ferguson punya favorit pribadi. Zinedine Zidane ia akui brilian, tapi hati pelatih Skotlandia itu lebih condong pada Paolo Maldini. Bukan tanpa alasan. Ferguson terpukau oleh kehadiran, semangat kompetitif, dan pengaruh besar bek legendaris AC Milan itu, meski secara teknis Maldini mungkin tak selalu yang terbaik.

Cerita Ferguson dan Kaka punya epilog yang manis. Di tahun 2024 ini, keduanya bertemu kembali. Kaka membagikan foto pertemuan itu di media sosial, disertai kalimat singkat penuh hormat.

“Setiap percakapan adalah pelajaran, terima kasih Tuan Ferguson!” tulisnya.

Jadi, meski tak terkesan dengan permainannya di lapangan, Ferguson rupanya tetap meninggalkan kesan mendalam bagi Kaka sebagai seorang guru. Begitulah sepak bola, penilaiannya kadang tak melulu soal gol atau trofi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar