Laga sore itu di Stadion Sultan Agung berakhir dengan angka 2-2. PSIM Jogja, sekali lagi, harus puas dengan satu poin usai ditahan PSBS Biak. Hasil ini tentu mengecewakan bagi pendukung Laskar Mataram.
Ini sudah pertandingan ketiga beruntun tanpa kemenangan. Jejak kekalahan mereka dimulai dari kandang Persija Jakarta akhir November lalu. Kemudian, imbang lawan Persijap Jepara pekan lalu. Dan kini, imbang lagi. Tren positif seakan sulit mereka raih.
Di ruang konferensi pers usai pertandingan, pelatih Jean-Paul van Gastel mencoba melihat sisi lain. Wajahnya tenang, meski hasil tiga laga terakhir jelas tak memuaskan.
“Kami memang belum menang dalam tiga pertandingan terakhir, itu benar. Tapi sejauh ini kami baru kalah tiga kali. Jika dibandingkan, beberapa tim lain juga memiliki jumlah kekalahan yang sama,”
Begitu ujar Van Gastel, berusaha menenangkan.
Menurut sang pelatih asal Belanda itu, masalah utama bukan pada konsistensi permainan. Performa timnya, bagi sebuah tim promosi, ia anggap masih kompetitif. Hanya saja, hasil imbang terlalu sering datang.
“Sebagai tim promosi, performa kami cukup baik. Kami memang terlalu sering bermain imbang, tapi di sisi lain kami juga tidak banyak kalah,”
Katanya lagi, menekankan poin yang sama.
Kalau dilihat dari catatan musim ini, PSIM sudah menjalani 15 pertandingan. Enam menang, enam imbang, dan cuma tiga kali kalah. Angka kekalahan yang minim itu yang dibanggakan Van Gastel. Ia bilang itu tanda konsistensi.
Namun begitu, statistik itu belum cukup mendongkrak posisi. Kemenangan yang kurang, itulah pembeda utama dengan tim-tim papan atas. Alhasil, Laskar Mataram untuk sementara masih terpaku di posisi kelima klasemen dengan 24 poin. Mereka butuh lebih dari sekadar tidak kalah. Mereka butuh kemenangan.
Artikel Terkait
Bezzecchi Jadikan Kekalahan dari Marquez Bekal Bangkit di MotoGP 2026
Simon Tahamata: Mental Kunci Hadapi Grup Neraka Piala Asia U-17
Atlet Tinju Makassar Andini dan Pelatih Dufri Dipanggil ke Timnas untuk Asian U-23 2026
Derby dItalia: Chivu Hadapi Sang Guru Spalletti, Thuram Bersaudara Bentrok di Giuseppe Meazza