Namun begitu, jangan dikira memimpin laga internasional itu lebih santai. Justru sebaliknya. Thoriq mengakui, wasit di pertandingan level itu dituntut fisik yang benar-benar prima. Tensinya cepat, permainannya tak kenal ampun.
"Kalau di luar negeri mungkin pertandingannya lebih cepat. Dan lebih, apa namanya, dia lebih fokus terhadap taktikal. Jadi kita harus fisik dituntut lebih prima," tambahnya, menjelaskan tantangan riil di lapangan.
Di balik semua itu, sikapnya sebagai wasit tetap sama: rendah hati dan selalu haus belajar. Setiap pertandingan, baginya, adalah ujian akhir yang harus dihadapi dengan serius.
"Kalau untuk di dunia perwasitan saya merasa ya masih tetap harus belajar setiap hari. Setiap pertandingan saya anggap itu sebagai final. Karena harus memberikan sesuatu yang terbaik," ungkap Thoriq.
Ia menutup dengan kalimat yang polos, "Saya tidak berpikiran muluk-muluk. Hanya berusaha membuat yang terbaik di lapangan."
Artikel Terkait
Fabio Calonego Soroti Kondisi Lapangan JIS Sebagai Faktor Penghambat Performa Persija
PSIS Incar Uji Coba Kontra PSM Makassar untuk Jaga Ritme Jelang Laga Penting
Elkan Baggott Kembali Dipanggil Timnas Indonesia di Era Pelatih John Herdman
Chris Waddle Peringatkan Cole Palmer: Pindah ke MU Berisiko Jadi Pemain Cadangan