Namun begitu, jangan dikira memimpin laga internasional itu lebih santai. Justru sebaliknya. Thoriq mengakui, wasit di pertandingan level itu dituntut fisik yang benar-benar prima. Tensinya cepat, permainannya tak kenal ampun.
"Kalau di luar negeri mungkin pertandingannya lebih cepat. Dan lebih, apa namanya, dia lebih fokus terhadap taktikal. Jadi kita harus fisik dituntut lebih prima," tambahnya, menjelaskan tantangan riil di lapangan.
Di balik semua itu, sikapnya sebagai wasit tetap sama: rendah hati dan selalu haus belajar. Setiap pertandingan, baginya, adalah ujian akhir yang harus dihadapi dengan serius.
"Kalau untuk di dunia perwasitan saya merasa ya masih tetap harus belajar setiap hari. Setiap pertandingan saya anggap itu sebagai final. Karena harus memberikan sesuatu yang terbaik," ungkap Thoriq.
Ia menutup dengan kalimat yang polos, "Saya tidak berpikiran muluk-muluk. Hanya berusaha membuat yang terbaik di lapangan."
Artikel Terkait
Ubed Bangkit dari Ketertinggalan, Lumat Unggulan Kanada di Thailand Masters
Acosta: Cedera Tak Kurangi Ancaman Marquez di Misi Juara 2026
Tim Futsal MNC University Rebut Podium Ketiga di Turnamen Psikologi UPI
Lamine Yamal dan Neymar Berjanji Liburan Bersama Jika Spanyol-Brazil Bentrok di Final Piala Dunia