MUSCAT – Rasanya seperti diangkat lalu dihempaskan. Tim snooker putra Indonesia harus menelan pil pahit kekalahan yang dramatis di babak 12 besar Oman World Cup Team Men Snooker Championships 2025. Mereka kalah tipis 2–3 dari Prancis dalam laga yang benar-benar ketat, berlangsung di Active Oman Sports and Entertainment Hub, Kamis (21/11/2025).
Turnamen yang dihelat di Muscat sejak 15 hingga 23 November ini berada di bawah naungan International Billiards & Snooker Federation (IBSF). Sebelum bertemu Prancis, perjalanan tim Indonesia terbilang impresif di babak penyisihan grup.
Dua pemain andalan, Gebby Adi Wibawa dan Dhendy Khristanto, adalah ujung tombak. Mereka sebelumnya berhasil mencatat kemenangan penting, salah satunya atas China, yang membuat optimisme tim melambung tinggi sebelum akhirnya berhadapan dengan tim Prancis dalam laga hidup-mati.
Pertandingan dimulai dengan situasi yang kurang bersahabat. Di frame pertama, Gebby yang biasanya stabil justru melakukan satu kesalahan krusial pada bola hitam. Nah, peluang sekecil itu langsung disambar pemain Prancis. Mereka mencetak break 91 dan membuat Indonesia tertinggal 0–1 sejak awal.
Namun begitu, Indonesia tak tinggal diam. Frame kedua menjadi milik Dhendy. Dengan performa yang solid, dia mencatat break 40 dan menutup frame dengan skor meyakinkan 74–17. Skor akhirnya 1–1. Asa untuk melangkah lebih jauh pun kembali menyala.
Tapi di frame ganda, nasib kembali tidak berpihak. Indonesia gagal memanfaatkan peluang yang ada. Kekalahan di partai ini membuat Prancis kembali unggul 2–1. Tekanan semakin menjadi.
Di frame keempat, Gebby bangkit. Dia tampil apik, mencatatkan break 59 dan menang telak 68–5. Skor kembali imbang, 2–2. Semuanya harus ditentukan di frame kelima yang penuh ketegangan.
Dan di sinilah drama puncak terjadi. Dhendy sempat memimpin dengan skor 58–54. Situasi terasa begitu mencekam. Namun, sebuah insiden kecil mengubah segalanya. Pukulan safety yang dia lakukan ternyata tidak berjalan mulus; bola putihnya malah mengenai bola pink dan masuk. Itu adalah kesalahan yang mahal, menghasilkan penalti enam poin untuk Prancis. Lawan, yang seolah menunggu momentum seperti ini, langsung memanfaatkannya. Mereka menghabiskan empat bola tersisa dan menutup laga dengan skor akhir 69–51. Tamat sudah.
Pelatih tim nasional, Imran Ibrahim, tampak kecewa namun tetap objektif. Dia menilai ada dua momen penting yang seharusnya bisa menjadi titik balik.
"Di frame ganda ada peluang ketika Gebby gagal pada bola hitam. Peluang juga muncul di frame kelima ketika bola safety Dhendy menyentuh bola pink. Secara teknis kami tidak kalah, tetapi dua momen itu sangat menentukan," ujar Imran, yang juga menjabat sebagai Deputy Chairman I Bidang Teknis dan Kepelatihan PB POBSI.
Di balik kekecewaan, Imran tetap melihat secercah harapan. Dia menyoroti perkembangan positif dari sisi mental dan kualitas pukulan kedua anak asuhnya.
"Mereka sudah lebih berani mengambil keputusan pada bola-bola sulit. Penguatan konsentrasi dan kemampuan potting akan terus kami dorong," katanya.
Dia juga menambahkan hal yang cukup membanggakan. Keikutsertaan di Oman ini membuktikan sesuatu. Meski dengan segala keterbatasan fasilitas dan turnamen dalam negeri, Indonesia ternyata mampu bersaing dengan negara-negara besar.
"Di Oman terlihat permainan kita tidak jauh berbeda. Dengan latihan berkelanjutan, peluang mencapai level tertinggi tetap ada," ujarnya penuh keyakinan.
Jadi, meski harus pulang lebih awal, catatan perjalanan tim snooker Indonesia di Oman ini tetaplah positif. Kemenangan atas China dan Bahrain di fase grup, ditambah dengan perlawanan sengit hingga detik-detik terakhir melawan Prancis, adalah modal berharga. Sebuah fondasi yang kokoh untuk membawa snooker tanah air ke level yang lebih tinggi di masa depan.
Artikel Terkait
Janice Tjen Tembus Peringkat 36 Dunia, Rekor Tertinggi Kariernya
Mantan Manajer Persija Harianto Badjoeri Meninggal Dunia
Flick Anggap Wajar Reaksi Kesal Yamal Usai Barcelona Kembali ke Puncak Klasemen
PBSI Kirim 24 Atlet Lebih Awal ke Inggris untuk Aklimatisasi Jelang All England 2026