Lula Tawarkan Diri Sebagai Mediator, Desak AS dan Venezuela Berdialog untuk Hindari Invasi

- Rabu, 05 November 2025 | 03:45 WIB
Lula Tawarkan Diri Sebagai Mediator, Desak AS dan Venezuela Berdialog untuk Hindari Invasi
Presiden Brasil Lula Desak AS dan Venezuela Berdialog, Tawarkan Mediasi

Presiden Brasil Lula Desak AS dan Venezuela Berdialog, Tawarkan Mediasi

Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, secara terbuka menyatakan harapannya agar Amerika Serikat tidak melancarkan serangan darat ke Venezuela. Dalam upaya mencegah eskalasi konflik, Lula menegaskan kesediaannya untuk bertindak sebagai mediator antara kedua negara yang berseteru.

"Saya tidak ingin kita mencapai titik invasi darat AS ke Venezuela," tegas Lula dalam pernyataannya yang dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Rabu (5/11/2025).

Lula mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan komunikasi dengan Presiden AS, Donald Trump. Dalam percakapan tersebut, Presiden Brasil menyampaikan pesan penting bahwa konflik politik harus diselesaikan dengan jalur diplomasi, bukan kekuatan senjata.

"Saya katakan kepada Presiden Trump... bahwa masalah politik tidak diselesaikan dengan senjata masalah tersebut diselesaikan melalui dialog," tambah Lula menegaskan pendiriannya.

Pemimpin berusia 80 tahun itu, yang sedang berada di Belem untuk memimpin Konferensi Iklim COP30, juga memberikan saran konstruktif. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat sebaiknya fokus pada upaya bantuan untuk memerangi perdagangan narkoba, daripada menggunakan pendekatan militer.

Lebih lanjut, Lula mengonfirmasi bahwa isu ketegangan antara AS dan Venezuela ini akan menjadi salah satu agenda pembahasan utama dalam pertemuan puncak Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC). Pertemuan penting tersebut dijadwalkan berlangsung pada tanggal 9-10 November di Santa Marta, Kolombia.

Langkah mediasi ini diusulkan di tengah situasi yang memanas, dimana Presiden Donald Trump telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di kawasan Karibia untuk operasi anti-narkoba yang telah menimbulkan korban jiwa. Sementara itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang dituduh Trump memimpin kartel narkoba, menuduh Washington memiliki agenda tersembunyi untuk melakukan perubahan rezim dan menguasai cadangan minyak negaranya.

Komentar