Pemkot Depok dan KLH Siapkan Antisipasi Cegah Kebakaran Berulang di TPA Cipayung

- Jumat, 17 Juli 2026 | 14:20 WIB
Pemkot Depok dan KLH Siapkan Antisipasi Cegah Kebakaran Berulang di TPA Cipayung

Tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung di Depok terbakar pada Kamis malam, 16 Juli 2026, pukul 19.30 WIB. Titik api berasal dari timbunan bawah sampah. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.52 WIB, namun penyebab kebakaran masih dalam investigasi.

Pemerintah Kota Depok bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) kini menyiapkan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang. Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah mengatakan penyiraman di sejumlah titik TPA akan dilakukan dua kali sehari sebagai langkah mitigasi.

"Tadi juga, nanti kami per satu hari dua kali, dari Ibu Kadis (LHK Depok) rencana akan melakukan pembasahan, penyiraman satu hari dua kali untuk mitigasinya," kata Chandra saat ditemui di TPA Cipayung, Jumat (17/7).

Selain penyiraman, Pemkot Depok akan memperkuat pengawasan di TPA Cipayung. Dinas Lingkungan Hidup dan Kesehatan (DLHK) Kota Depok menyiapkan patroli lapangan secara rutin dan menambah patroli menggunakan drone.

"Pertama, memperkuat pengawasan. Pertama kami hal ini dari DLHK juga sebenarnya sudah melakukan patroli lapangan secara rutin. Tapi nanti akan ditambahkan dengan patroli drone. Seperti itu. Kedua, memperkuat juga tim, tim untuk mitigasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Chandra.

KLH melalui Deputi Penegakkan Hukum, Direktorat Udara, dan Direktorat Penanganan Sampah turut terlibat dalam penanganan kebakaran. Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH, Ardyanto Nugroho, mengatakan pihaknya telah menerbangkan drone termal untuk mendeteksi titik api yang masih tersisa.

"Tadi pagi kami menerbangkan drone termal kami untuk menganalisa apakah masih terdapat titik api atau tidak gitu ya. Dari hasil analisa drone termal kami untuk titik api permukaan, kita lihat memang sudah tidak ada," kata Ardyanto di lokasi.

Pemantauan akan dilakukan setiap tiga jam sekali untuk mendeteksi titik api di bawah permukaan. "Setiap 3 jam kami akan terbangkan drone termal kami untuk memantau titik api-titik api terutama yang di bawah permukaan," jelasnya.

KLH juga menurunkan mobil stasiun pemantauan kualitas udara yang dapat bergerak ke mana saja. Mobil ini mengukur parameter seperti PM2.5 dan PM10 untuk memantau risiko kesehatan masyarakat. "Ketika dia melebihi baku mutu, itu ada risiko terhadap kesehatan masyarakat. Dan itu kita pantau terus di situ," kata Ardyanto.

Penyebab kebakaran masih diinvestigasi oleh pihak berwenang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags