Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan pertandingan sengit, tetapi juga menghadirkan inspirasi dari para pemain muda yang tampil di luar dugaan. Lamine Yamal, wonderkid Spanyol, mencatatkan namanya sebagai salah satu pencetak gol termuda sepanjang sejarah Piala Dunia setelah menjebol gawang Arab Saudi di fase grup. Gol itu ia cetak pada usia 18 tahun 343 hari. Tak kalah menarik, Ayyoub Bouaddi dari Maroko menjadi tulang punggung lini tengah di usianya yang masih 18 tahun. Ia ikut mengantarkan Maroko ke babak 16 besar setelah menyingkirkan Belanda lewat adu penalti. Satu lagi nama yang patut dicatat: Lucas Herrington, bek tengah Australia berusia 18 tahun yang memikul tanggung jawab besar di jantung pertahanan tim Socceroos.
Mereka datang dari negara dan posisi berbeda, namun memiliki satu kesamaan selain usia: tidak ada yang tiba-tiba menjadi bintang. Publik hanya melihat gol indah, umpan cantik, atau tekel bersih di lapangan. Namun di balik itu semua, ada tahun-tahun panjang penuh latihan, seleksi ketat, persaingan tanpa ampun, kegagalan, cedera, bangku cadangan, dan tekanan untuk terus membuktikan diri. Tanpa proses itu, mereka hanyalah anak muda biasa yang belum cukup kompeten untuk panggung utama.
Kepercayaan tampil di turnamen terbesar dunia bukanlah hadiah. Itu adalah hasil dari proses yang berhasil mereka menangi. Hal inilah yang membuat kemunculan mereka menginspirasi: di dunia sepak bola, kerja keras masih berhubungan linier dengan kesempatan. Proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh masih berbanding lurus dengan hasil yang dicapai.
Sayangnya, keyakinan semacam itu tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain. Di luar lapangan hijau, kompetensi kadang bukan hal yang esensial. Seleksi tidak selalu berbasis prestasi. Meritokrasi kerap tergusur oleh kuatnya koneksi. Dalam beberapa waktu terakhir, publik Indonesia dihebohkan dengan penunjukan sejumlah anak muda sebagai komisaris BUMN atau anak usahanya. Sebagian menyambut sebagai tanda regenerasi, sebagian lain mempertanyakan, dan tidak sedikit yang menyatakan keberatan.
Keberatan publik bukan pada usia mereka. Anak muda menjadi pemimpin bukan masalah, bahkan perlu. Tidak ada aturan yang melarang. Persoalannya lebih mendasar: apakah prosesnya dapat dipercaya? Kompetensi apa yang membuat mereka pantas? Mengapa mereka yang dipilih, sementara banyak anak muda lain dengan kapasitas serupa atau lebih baik tidak pernah mendapat kesempatan sama?
Di sinilah perbedaan antara dua panggung itu terasa. Di lapangan sepak bola, pemain muda memperoleh tempat karena berhasil meyakinkan pelatih bahwa ia layak bermain. Di ruang kekuasaan, kesan yang muncul justru sering berkebalikan: seseorang lebih dulu diberi tempat, lalu publik diminta percaya bahwa ia layak berada di sana.
Indonesia tidak kekurangan anak muda berbakat. Kita punya banyak Yamal, Bouaddi, atau Herrington dalam bidang berbeda. Di kampus, komunitas, perusahaan, bahkan di sudut-sudut yang jauh dari sorotan, selalu ada kaum muda yang tekun membesarkan kapasitas dan meninggikan kualitas diri. Yang belum selesai dibangun adalah sistem yang memungkinkan mereka naik ke panggung besar melalui jalan yang benar. Mereka tidak meminta jalan pintas. Mereka hanya meminta kesempatan yang datang melalui mekanisme adil, melalui proses teruji dan bisa dipercaya bukan melalui jalur khusus yang lebih mementingkan relasi ketimbang kompetensi.
Artikel Terkait
Pantai Gading Tersingkir, Pelatih Emerse Fae Akui Kehilangan Fokus di Menit Akhir
Meksiko vs Ekuador: Laga 32 Besar Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca
Prancis Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Hajar Swedia 3-0, Mbappe Samai Catatan Messi
Prancis Hajar Swedia 3-0, Mbappe Cetak Dua Gol