Antrean Panjang di TPS Rawajati, Petugas Sampah Keluhkan Pembatasan Kuota ke Bantargebang

- Selasa, 30 Juni 2026 | 00:00 WIB
Antrean Panjang di TPS Rawajati, Petugas Sampah Keluhkan Pembatasan Kuota ke Bantargebang

Antrean motor pengangkut sampah mengular hingga mendekati Stasiun Duren Kalibata di siang hari. Para petugas menunggu giliran menurunkan muatan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawajati, Jakarta Selatan. Bau menyengat langsung tercium saat kendaraan berbelok dari Jalan Raya Kalibata menuju lokasi.

Di sisi kanan jalan, puluhan motor berjajar. Para penariknya duduk di trotoar sambil bersabar menanti giliran. Jenal Abidin, 38 tahun, ikut duduk di antara mereka. Ia datang lebih siang sehingga kendaraannya berada jauh di urutan belakang.

Menurut Jenal, antrean panjang terjadi karena ada pembatasan kuota pembuangan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Pembatasan itu dilakukan setelah insiden longsor di lokasi tersebut beberapa waktu lalu. Akibatnya, aktivitas bongkar muat di TPS Rawajati ikut terhambat.

"Dampaknya emang banyak waktu terbuang kalau macet begini, seharusnya kita bisa pilah-pilah barang yang di rumah kan, sekarang jadi macet," kata Jenal.

Meski harus menunggu lama, Jenal tak pernah bosan menjalani pekerjaannya. Sejak bertahun-tahun, ia menggantungkan hidup dari usaha pengangkutan sampah secara mandiri. Setiap hari, ia berkeliling mengambil sampah dari permukiman sebelum membawanya ke TPS Rawajati.

Pekerjaan itu jauh dari kata nyaman. Jenal harus berhadapan dengan bau menyengat dan cuaca tak menentu. Ia juga harus mengatur waktu agar sampah yang dikumpulkan bisa segera dibuang. Jika antrean panjang, waktu kerjanya ikut tersita.

Jenal mulai menjadi pengangkut sampah setelah pindah dari Karawang ke Jakarta pada 2000. Merantau sejak remaja membuat pilihan pekerjaannya terbatas. Hingga akhirnya, ia menjalani profesi sebagai penarik sampah. "Saya dapat kerjaan kayak begini, syukur alhamdulillah," ujarnya.

Awalnya, Jenal mengikuti temannya yang sudah lebih dulu menjadi penarik sampah swadaya. Saat itu ia bertugas sebagai kenek membantu mengangkut sampah dari perumahan warga. Baru pada 2008, ia mulai bisa menarik sampah sendiri setelah ada teman yang menjual lahan penarikan kepadanya.

Ia mengawali usaha dari gerobak sampah. Pada 2013, ia berhasil memiliki motor tiga roda untuk mengangkut sampah. Tiga tahun kemudian, ia kembali menambah satu armada yang kini dipakai adiknya.

Setiap hari, Jenal berangkat sekitar pukul 07.30 WIB untuk mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Selesai berkeliling, ia langsung membawa sampah ke TPS Rawajati. Jika antrean tak panjang, ia bisa pulang siang hari. Namun jika antrean mengular, ia baru tiba di rumah hingga malam hari.

Wilayah penarikan sampahnya mulai dari Jatipadang hingga Kalibata Tengah. Ia tak sembarang mengambil sampah karena sesama penarik sudah saling mengetahui wilayah masing-masing. Dalam sehari, Jenal bisa membawa satu motor berisi sampah dengan berat kurang lebih 6 kuintal. Semua jenis sampah diangkut, mulai dari sisa dapur, sampah tebangan, hingga barang bekas.

Uang dari penarikan sampah diperoleh dari warga yang menggunakan jasanya. Setiap rumah biasanya membayar sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per bulan. Namun penghasilan Jenal tak hanya dari sana. Ia juga kerap menukarkan sampah bekas yang bisa didaur ulang menjadi uang. "Ya dari macam dus, terus botol-botol, kayak besi-besi bekas gitu," ujarnya.

Barang-barang tersebut dijual kepada pengepul di sekitar rumahnya. Dalam seminggu, ia bisa mendapatkan sampai ratusan ribu rupiah. Dari usaha tersebut, Jenal memperoleh penghasilan lebih dari Rp 5 juta per bulan.

KUR BRI Bantu Usaha Berkembang

Untuk mengembangkan usaha, Jenal mulai mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2018 dengan nilai awal Rp 25 juta. Hingga kini, ia telah mengajukan pinjaman sebanyak empat kali dengan nominal antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. Dana tersebut digunakan untuk memperluas lahan penarikan sampah.

Dalam usaha penarikan sampah swadaya, terdapat kebiasaan ketika seorang penarik berhenti atau pensiun, wilayah penarikannya dapat dikelola oleh orang lain dengan memberikan sejumlah uang. "Kayak ibarat uang pesangon lah kalau kata orang-orang gedean mah," ujar Jenal.

Besaran uang yang dibayarkan menyesuaikan pendapatan dari wilayah tersebut. Misalnya, jika sebuah wilayah menghasilkan Rp 1 juta per bulan, maka nilai pengalihannya bisa mencapai sekitar 10 kali lipat atau Rp 10 juta. "Tapi satu kali putus. Ya, hitung-hitung uang pensiun dialah," kata Jenal.

Uang dari BRI itulah yang digunakan Jenal untuk menambah lahan penarikannya. Menurutnya, para penarik sampah sudah sama-sama memahami aturan tidak tertulis tersebut. "Jadi, kalau ngambil itu, kalau narik, sama-sama tahu ini lahan kita, itu lahan Bapak. Iya, itu kan masing-masing. Nggak bisa langsung tarik aja, jadi harus bener-bener punya langganan," jelasnya.

Setelah wilayah penarikannya bertambah, pendapatan Jenal pun meningkat. Beberapa tambahan lahan penarikan itu berada di kawasan Pasar Minggu hingga Ragunan. Peningkatan pendapatan membuat Jenal bisa menabung dan merenovasi rumahnya di kampung halaman, Karawang. "Alhamdulillah banyak manfaatnya. Bisa ngembangin usaha untuk menambah penghasilan. Termasuk saya bisa renovasi rumah," ujarnya.

Komitmen BRI Dukung UMKM

Perkembangan usaha Jenal setelah mendapatkan KUR BRI menjadi salah satu contoh dukungan permodalan bagi pelaku UMKM. Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menegaskan komitmen BRI untuk selalu memajukan UMKM di Indonesia.

"Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi.

Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui berbagai layanan perbankan. Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya untuk naik kelas.

"Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," ujar Arbi.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags