Tekanan Mental dan Krisis Bunuh Diri Pelajar Mewarnai Ulang Ujian Masuk Kedokteran India

- Rabu, 24 Juni 2026 | 13:50 WIB
Tekanan Mental dan Krisis Bunuh Diri Pelajar Mewarnai Ulang Ujian Masuk Kedokteran India

Lebih dari dua juta calon mahasiswa kedokteran di India kembali mengikuti ujian masuk nasional NEET akhir pekan ini, setelah ujian sebelumnya dibatalkan akibat dugaan kebocoran soal. Di balik pengamanan superketat yang diterapkan, tekanan psikologis yang membebani para peserta justru mencapai titik paling mencekam. Sejumlah calon peserta dilaporkan meninggal karena bunuh diri dalam beberapa hari terakhir, memicu pertanyaan serius tentang sistem pendidikan yang menempatkan satu ujian sebagai penentu tunggal masa depan jutaan orang.

Nelima Patel, 18 tahun, adalah salah satu dari ribuan peserta yang harus mengulang persiapan dari awal. Duduk di pusat ujian di Ahmedabad, Gujarat, ia mengaku sudah merasa sangat lelah bahkan sebelum lembar soal dibagikan. “Secara mental itu sangat melelahkan, tetapi saya harus tetap fokus saat mengerjakan ujian,” katanya. “Terlalu banyak persiapan yang harus saya lalui.” Ia menambahkan bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, seorang siswa yang ia kenal meninggal dunia karena bunuh diri. “Semuanya terasa sangat menyedihkan,” ujarnya.

Ujian NEET edisi kali ini digelar di tengah pengamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Autentikasi wajah, pemeriksaan biometrika, dan ribuan alat pengganggu sinyal dipasang di berbagai pusat ujian untuk mencegah kecurangan. Namun, ketatnya pengawasan itu tidak mampu meredam kecemasan yang sudah mengakar. Dari 2,27 juta peserta yang bersaing, India hanya menyediakan sekitar 130.000 kursi di lebih dari 800 fakultas kedokteran. Artinya, hanya satu dari 17 peserta yang berhasil mendapatkan tempat.

Bagi keluarga para peserta, angka-angka itu bukan sekadar statistik. “Tidak adil membuat anak-anak menjalani proses yang begitu menyiksa,” kata Rukmini Madhavan, orang tua dari Mahesh yang juga kembali mengikuti ujian. “Kalau mereka tidak lolos ambang nilai, masalahnya jadi berlapis dan bisa berdampak pada kesehatan mental.”

Tekanan mental dan krisis bunuh diri pelajar

Kontroversi NEET kembali menyingkap realitas yang lebih besar: meningkatnya tekanan emosional di kalangan pelajar India. Data dari Biro Catatan Kejahatan Nasional mencatat 14.488 kasus bunuh diri di kalangan pelajar pada 2024, meningkat 4,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Pelajar menyumbang 8,5 persen dari total kasus bunuh diri nasional dan menjadi kategori profesi terbesar kelima di antara para korban.

Dalam beberapa hari sejak kontroversi ujian ini mencuat, dilaporkan 12 calon peserta NEET meninggal karena bunuh diri. Sebagian meninggalkan catatan yang menjelaskan tekanan berat yang mereka alami, sementara yang lain sebelumnya telah mengungkapkan kecemasan menghadapi satu putaran lagi persiapan dan ujian. Banyak dari mereka berasal dari latar belakang ekonomi rendah atau pedesaan, di mana orang tua harus menjual tanah, mengambil pinjaman besar, atau menguras tabungan untuk membiayai bimbingan belajar yang mahal.

Neuropsikiater Anjali Nagpal menilai sistem pendidikan telah menciptakan budaya yang sempit dalam merayakan kesuksesan. “Kami telah menciptakan budaya di mana kesuksesan dirayakan dengan cara yang sangat sempit, sementara kegagalan sering kali distigmatisasi,” katanya. “Ini lebih dari sekadar peringatan, karena bisa membuat anak muda merasa terjebak di antara ekspektasi dan kenyataan.”

Ekosistem pendidikan yang kompetitif tanpa jeda

Para siswa menghabiskan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun mempersiapkan ujian masuk seperti NEET, JEE, dan berbagai ujian rekrutmen pemerintah. Remaja dari berbagai wilayah India sering kali harus pindah ke kota-kota yang dikenal sebagai pusat bimbingan belajar, seperti Kota di Rajasthan. Di sana, mereka masuk ke lingkungan yang didominasi peringkat, ujian simulasi, batas nilai kelulusan, dan persaingan tanpa henti.

“Tekanan untuk berhasil sangat besar. Kegagalan bisa berarti satu tahun lagi biaya bimbingan belajar, satu tahun lagi ketidakpastian, dan satu tahun lagi untuk mencoba,” kata Jagdish Kumar, seorang mahasiswa di Delhi. Tekanan ini semakin berat karena ekspektasi orang tua, pengorbanan finansial keluarga, serta keyakinan luas bahwa satu ujian bisa menentukan arah seluruh hidup seseorang.

Pakar pendidikan Apoorvanand Jha menilai krisis dalam ujian nasional ini memiliki kelemahan mendasar. “Memaksa negara sebesar India ke dalam sistem ujian nasional yang sangat tersentralisasi dan hanya sekali kesempatan tidak meningkatkan standar,” ujarnya. “Sebaliknya, ini menciptakan titik kegagalan tunggal yang sangat rentan dan dapat membahayakan masa depan jutaan siswa, serta menunda kalender universitas dan tahun akademik secara keseluruhan.”

Peringatan dari Mahkamah Agung dan respons politik

Mahkamah Agung India semakin sering menyampaikan keprihatinan atas pola krisis kesehatan mental pelajar yang kian memburuk. Dalam sejumlah pernyataannya, lembaga peradilan tertinggi itu mengidentifikasi adanya “pola yang mengkhawatirkan” dalam kasus bunuh diri pelajar di berbagai institusi pendidikan. Sebuah gugus tugas nasional yang dibentuk atas perintah pengadilan juga mengidentifikasi sejumlah faktor pendorong, di antaranya persaingan akademik yang ekstrem, diskriminasi berbasis kasta, tekanan finansial, lemahnya sistem penanganan pengaduan, serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental.

Kematian para pelajar ini kini menjadi titik kumpul bagi gerakan Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan anak muda yang bermula dari kampanye satire di internet. CJP masih menggelar aksi duduk di Ibu Kota New Delhi, memanfaatkan kontroversi NEET untuk menyoroti berbagai ketidakteraturan ujian dan kegagalan administrasi yang telah mengikis kepercayaan terhadap sistem. Ketua CJP, Abhijeet Dipke, mendesak pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi untuk memberikan kompensasi sebesar 10.000.000 rupee (sekitar 1,89 miliar rupiah) kepada keluarga siswa yang diduga meninggal karena bunuh diri dalam konteks kontroversi ujian. “Sebagian keluarga ini harus mengambil pinjaman untuk menyekolahkan anak mereka. Kita hanya bisa membayangkan apa yang mereka alami,” kata Dipke, yang partainya juga menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.

Gerakan ini berawal dari respons terhadap pernyataan seorang pejabat senior pemerintah yang membandingkan sebagian anak muda pengangguran dengan “kecoak”. Kampanye daringnya kemudian mendapat resonansi luas di kalangan generasi muda yang menghadapi tingginya pengangguran, skandal ujian, dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Bagi Kumar, yang sedang mempersiapkan ujian tahun depan, persoalan ini bukan semata soal politik. “Ini adalah seleksi alam, dan memang seperti itu sistemnya,” pungkasnya.

Jika Anda mengalami tekanan emosional yang berat atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Informasi layanan bantuan di Indonesia dapat ditemukan melalui Hotline 119 untuk cepat tanggap darurat dan situasi kritis.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar