Survei: Gen Z Paling Aktif Membaca, Ungguli Milenial dan Generasi X

- Selasa, 23 Juni 2026 | 09:40 WIB
Survei: Gen Z Paling Aktif Membaca, Ungguli Milenial dan Generasi X

Anggota MPR RI, Atalia Praratya, mengungkapkan sebuah temuan yang membalikkan stereotip umum: Generasi Z, yang kerap dianggap sebagai kelompok yang haus akan informasi singkat dan visual, justru tercatat sebagai generasi paling aktif membaca dibandingkan Generasi Milenial dan Generasi X. Pernyataan ini disampaikan dalam seminar perpustakaan bertajuk “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Ga Sih?” yang digelar di Universitas Widyatama, Bandung, pada Senin (22/6).

“Hasil sebuah lembaga survei Jakpat menunjukkan Gen Z adalah generasi yang paling aktif membaca,” ujar Atalia dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026). Seminar tersebut merupakan hasil kerja sama Perpustakaan MPR RI dengan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama. Acara ini juga menghadirkan Direktur Utama Narabahasa, Ivan Razela Lanin, serta Kepala Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama, Haria Saputry Wahyuni, sebagai narasumber.

Berdasarkan data survei Jakpat yang dikutip Atalia, persentase aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan Milenial yang sebesar 20 persen dan Generasi X yang hanya 18 persen. Jenis bacaan yang paling diminati oleh Gen Z meliputi artikel dari portal berita daring, buku fisik, dan buku elektronik atau e-book.

Atalia menjelaskan bahwa Gen Z adalah kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Dengan proporsi mencapai 24,93 persen dari total populasi, mereka menjadi generasi terbesar di Indonesia, mengungguli generasi Milenial (lahir 1981-1996) yang sebesar 24,34 persen dan baby boomer yang hanya 10,31 persen. “Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi. Mereka cepat adaptasi, mengakses informasi secara instan, kritis terhadap isu sosial, serta memiliki karakter yang mandiri, kreatif, dan kolaboratif dalam belajar maupun berkarya,” jelasnya.

Untuk menarik minat baca kalangan ini, Atalia menyarankan transformasi perpustakaan menjadi pusat pengetahuan atau knowledge hub sebuah ruang yang tidak hanya menyimpan buku, tetapi juga menjadi tempat berkumpul dan berkarya. Ia mencontohkan, banyak anak muda mencari tempat untuk belajar, berdiskusi, membuat konten, hingga membangun jaringan. “Perpustakaan bisa diubah menjadi co-working space gratis, ruang komunitas, ruang diskusi publik, studio podcast sederhana, ruang editing video,” ujarnya.

Di sisi lain, Atalia juga mendorong perpustakaan untuk hadir di platform digital yang akrab dengan Gen Z, seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Menurutnya, koleksi perpustakaan pun harus diperluas agar lebih relevan dan kekinian, karena generasi ini tidak hanya belajar dari buku, melainkan juga dari podcast, video edukasi, jurnal, infografis, hingga newsletter. “Jadi citra yang ingin dibangun adalah perpustakaan sebagai ruang eksplorasi ide,” katanya.

Senada dengan Atalia, Ivan Razela Lanin menegaskan bahwa Gen Z tidak menjauh dari bacaan. Selain mengutip data Jakpat, Ivan juga merujuk pada data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional meningkat dari 66,7 poin pada tahun 2023 menjadi 72,44 poin pada tahun 2024. Data GoodStats tahun 2024 pun mencatat bahwa 84,7 persen responden Gen Z mengaku gemar membaca buku.

Lebih jauh, Ivan menyampaikan bahwa menjadi seorang pembaca bukanlah persoalan fasilitas, melainkan identitas. “Saya membaca karena saya memutuskan bahwa saya adalah orang yang membaca,” katanya. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa tugas perpustakaan bukan sekadar menyediakan rak-rak buku, melainkan membantu seseorang membangun identitas sebagai pembaca. “Perpustakaan perlu menjadi tempat yang membuat orang ingin menjadi pembaca,” ujarnya.

Sementara itu, Haria Saputry Wahyuni menyoroti minat baca Gen Z dari sudut pandang yang berbeda. Ia mengaitkan fenomena ini dengan tren cafe library ruang baca yang estetik dan nyaman serta maraknya BookTok dan Bookstagram sebagai simbol identitas baru. Menurut Haria, literasi di kalangan Gen Z juga dapat berfungsi sebagai stress therapy. “Salah satu karakteristik Gen Z adalah sering merasa cemas. Kegiatan membaca membuat hati tenang dan detak jantung lebih teratur,” jelasnya.

Haria menambahkan bahwa membaca dapat menjadi kunci kesehatan mental bagi generasi yang rentan terhadap kecemasan. “Dengan memilah informasi bisa menjadi kunci kesehatan mental. Membaca fiksi bisa meningkatkan empati dan mengurangi kecemasan. Membaca lambat akan melatih fokus, kesabaran, dan kemampuan duduk dengan ketidaknyamanan. Ruang baca yang tenang adalah respons alami terhadap kelelahan digital,” paparnya.

Mewakili Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Setjen MPR RI, Rosando, mengungkapkan bahwa Perpustakaan MPR RI saat ini tengah dikembangkan menjadi pusat literasi konstitusi. Pihaknya berharap mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. “Perpustakaan MPR adalah perpustakaan khusus. Sejarah demokrasi dan sejarah konstitusi ada di MPR. Kami sedang mendigitalisasi koleksi perpustakaan MPR, khususnya yang berkaitan dengan produk hukum MPR agar bisa diakses masyarakat dengan mudah,” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, pustakawan ahli madya Satrya Yudha Hartanto turut memperkenalkan Perpustakaan MPR kepada para peserta. Pemaparan tersebut mencakup visi dan misi, layanan, kekhususan, serta jenis-jenis koleksi buku yang dimiliki oleh perpustakaan tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar