Ribuan Warga Israel Protes di Tel Aviv dan Yerusalem, Tuntut Netanyahu Mundur

- Senin, 22 Juni 2026 | 11:55 WIB
Ribuan Warga Israel Protes di Tel Aviv dan Yerusalem, Tuntut Netanyahu Mundur

Ribuan warga Israel turun ke jalan di sejumlah kota, termasuk Tel Aviv, dalam gelombang protes terbaru yang menargetkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (20/6) waktu setempat itu tidak hanya mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi juga menuntut Netanyahu mundur dari jabatannya. Para demonstran menuding sang perdana menteri telah memperpanjang konflik tanpa arah politik yang jelas, sebuah tuduhan yang menjadi inti dari kemarahan publik yang meluas.

Menurut laporan surat kabar berbahasa Ibrani, Haaretz, yang dikutip oleh kantor berita Anadolu Agency pada Senin (22/6/2026), sebanyak 1.000 demonstran memadati Lapangan Habima di pusat kota Tel Aviv dalam unjuk rasa utama. Aksi serupa juga terjadi di Yerusalem yang diduduki, di mana Kepolisian Israel menyita pengeras suara yang digunakan para demonstran di Lapangan Paris, dekat kediaman Netanyahu. Penyitaan itu, menurut pihak kepolisian, dilakukan untuk mencegah kebisingan.

Salah satu pengunjuk rasa yang hadir di Tel Aviv adalah Carmit Palty Katzir, yang menyuarakan kritik pedas terhadap pemerintahan Netanyahu. Katzir memiliki alasan pribadi yang mendalam untuk hadir di tengah kerumunan: ayahnya tewas akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, sementara ibu dan saudara laki-lakinya sempat disandera di Jalur Gaza sebelum akhirnya dibebaskan. Dalam pernyataannya, Katzir mengingatkan bahwa lebih dari 1.000 warga Israel telah tewas sejak Oktober 2023, dan puluhan ribu lainnya mengalami luka fisik maupun psikologis akibat konflik berkepanjangan.

Katzir secara terang-terangan menuduh Netanyahu memperpanjang perang tanpa arah politik yang jelas. Menurut laporan Haaretz, ia menuding perdana menteri memiliki satu tujuan utama: keberlangsungan politiknya sendiri. Tuduhan ini mencerminkan kekecewaan yang mendalam di kalangan demonstran, yang menilai bahwa kepentingan pribadi pemimpin mereka telah mengorbankan keselamatan dan masa depan bangsa.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar