Buku Baru Ungkap Kebiasaan Spiritual Soeharto dan Pengaruhnya dalam Memilih Pejabat

- Senin, 08 Juni 2026 | 16:30 WIB
Buku Baru Ungkap Kebiasaan Spiritual Soeharto dan Pengaruhnya dalam Memilih Pejabat

Sebuah buku yang mengupas sisi spiritual dan keseharian Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, resmi diluncurkan di tengah publik. Buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen ini tidak hanya menyoroti rutinitas pribadi sang mantan presiden, tetapi juga mengungkap cara-cara yang memengaruhinya dalam memilih para pembantu untuk duduk di pemerintahan.

Peluncuran buku tersebut digelar di Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat, pada Senin, 8 Juni 2026. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB), Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (Universitas Trilogi), serta penerbit buku Kompas.

Penulis buku, B. Wiwoho, menjelaskan bahwa tulisannya memberikan gambaran singkat tentang perilaku Pak Harto dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek yang ditekankan adalah bagaimana kebiasaan tersebut turut mempengaruhi proses rekrutmen para pejabat di era kepemimpinannya.

Wiwoho mengaku menyusun buku ini berdasarkan pengamatan langsung yang dilakukannya selama bertahun-tahun. Sebagai wartawan yang telah meliput di Istana Negara sejak 1972, ia memiliki akses untuk mengamati keseharian Soeharto. Untuk memperkaya data, ia juga mengunjungi berbagai tempat yang sering didatangi oleh mantan presiden tersebut.

“Isinya mungkin agak berbeda dengan pandangan umum masyarakat tentang mistis ya. Kalau mistis itu gambarannya selama ini kita kenal ada makhluk gaib, segala macam gitu ya. Tapi kalau di gambaran ini, nanti akan ketemu hal-hal lain,” ucap Wiwoho.

Menariknya, buku ini juga memuat analisis SWOT kependekan dari Strength, Weakness, Opportunity, and Threats yang dikemas dalam perspektif budaya Jawa. Analisis tersebut menjelaskan bagaimana Primbon Jawa digunakan untuk membaca situasi dan keadaan.

“Ditambahlah analisis SWOT ala Jawa. Kalau bahasa umumnya sebetulnya ini Primbon Jawa. Bagaimana Primbon Jawa membaca keadaan. Tapi saya gunakan dengan uraian dan istilah-istilah yang lebih ini lah, tidak berbau ramalan, tapi lebih pada analisa keadaan,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan dari penerbit buku Kompas, Tri Agung Kristanto, menilai bahwa buku ini menjawab pertanyaan publik yang selama ini mengemuka, yakni apakah Soeharto menganut aliran Kejawen. Menurut Tri, perilaku Soeharto lebih didasarkan pada kearifan lokal, sebuah nilai yang juga dianut oleh para pemimpin bangsa lainnya.

“Dari bukunya Pak Wi ini kemudian kita tahu bahwa Pak Harto, memang tadi yang Pak Lukman sampaikan, punya keyakinan, keyakinan yang kita sebut sebagai berangkat dari akar budaya kita, bukan kemudian menduakan Tuhan, bukan,” sebutnya.

“Tetapi kita kan punya namanya kearifan lokal. Dan kearifan lokal itu yang dipelihara oleh para pemimpin-pemimpin negara kita,” tambahnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar