Trump Ancam Netanyahu Lewat Sang Istri demi Batalkan Serangan ke Beirut Selatan

- Jumat, 05 Juni 2026 | 13:15 WIB
Trump Ancam Netanyahu Lewat Sang Istri demi Batalkan Serangan ke Beirut Selatan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan melancarkan ancaman langsung kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui istrinya, Sara Netanyahu, dalam upaya menggagalkan rencana serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Informasi ini mencuat dari pengakuan seorang pengusaha Israel bernama Roni Mani yang mengklaim memperoleh data tersebut dari sumber internal Gedung Putih. Laporan itu pertama kali disiarkan oleh situs berita berbahasa Ibrani, Walla, dan kemudian dikutip oleh Middle East Monitor pada Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut Mani, kontak antara Trump dan Sara Netanyahu terjadi secara langsung dan bersifat mendesak. Trump disebut menghubungi istri perdana menteri Israel itu untuk memintanya membujuk suaminya membatalkan operasi militer di kawasan selatan Beirut. Mani mengklaim bahwa ancaman yang disampaikan Trump sangat spesifik dan bersifat pribadi.

“Informasi eksklusif saya, melalui sumber saya di Gedung Putih, mengonfirmasi bahwa Trump menghubungi Sara Netanyahu dan menuntut agar dia menjaga Netanyahu atau dia akan memenjarakannya, mengusir Yair dari Amerika Serikat, dan membekukan aset mereka di sana,” ujar Mani, merujuk pada Yair Netanyahu, putra Benjamin Netanyahu yang diketahui tinggal di Florida sejak 2023.

Di sisi lain, Mani juga mengungkapkan bahwa Trump menawarkan suaka politik di Amerika Serikat kepada keluarga Netanyahu jika perdana menteri Israel itu kalah dalam pemilu mendatang. Tawaran itu disampaikan bersamaan dengan tekanan agar Netanyahu membatalkan serangan yang direncanakan.

Menurut keterangan Mani, Sara Netanyahu kemudian mengonfrontasi suaminya mengenai ancaman dan tawaran tersebut. Langkah itu disebut mendorong Netanyahu untuk menghubungi Trump secara langsung dan akhirnya menyetujui pembatalan rencana serangan ke pinggiran selatan Beirut. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel terkait kebenaran klaim tersebut.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar