Harga emas mengalami penurunan tipis pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan suku bunga yang lebih tinggi. Sentimen risiko di pasar global ikut terpukul setelah serangan baru antara Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian mengenai kelanjutan pembicaraan damai di antara kedua negara yang tengah berkonflik.
Berdasarkan data yang dihimpun, harga emas spot turun 0,9 persen menjadi 4.447,09 dolar AS per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah satu persen ke level 4.475,01 dolar AS per ons. Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan militer yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.
Militer Amerika Serikat melaporkan telah menembak dan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak tanpa muatan yang mencoba berlayar menuju pelabuhan Iran. Komando Pusat AS juga menyatakan berhasil memukul mundur beberapa rudal dan drone Iran yang diluncurkan ke Kuwait dan Bahrain, serta melakukan serangan pertahanan diri di Pulau Qeshm sebagai respons atas serangan tersebut.
Di sisi lain, media pemerintah Iran mengklaim angkatan bersenjata negara itu telah menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan militer AS di sekitarnya sebagai bentuk balasan atas serangan di Qeshm. Aksi militer terbaru ini merusak harapan bahwa Washington dan Teheran mungkin segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Presiden Donald Trump menekankan bahwa pembicaraan antara kedua pihak masih berlangsung. Namun, sejumlah poin penting masih menjadi kendala dalam negosiasi, termasuk ambisi nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz yang sangat strategis. Eskalasi pertempuran antara Israel dan target-target yang didukung Hizbullah di Lebanon baru-baru ini juga menambah titik perselisihan baru.
Laporan media menyebutkan bahwa Iran telah mengusulkan peta jalan terstruktur empat fase untuk mencapai kesepakatan damai dengan AS. Fase pertama akan melibatkan penghentian total operasi militer di semua front, diikuti oleh pencabutan blokade, penghapusan sanksi minyak, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Fase ketiga mencakup negosiasi yang lebih luas mengenai sanksi dan isu nuklir, sedangkan fase terakhir adalah pembentukan komite pengawas untuk memantau implementasi rencana tersebut. Dengan latar belakang ini, harga minyak justru naik pada hari Rabu, meningkatkan kekhawatiran inflasi di pasar global.
Sementara itu, pelaku pasar logam mulia juga mencermati kalender ekonomi Amerika Serikat. Laporan bulanan ADP menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di sektor swasta mencapai 122 ribu pada bulan Mei, peningkatan terbesar sejak Januari 2025. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS terus menguat setelah periode pendinginan menjelang akhir tahun lalu. Laporan penggajian non-pertanian untuk bulan Mei yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat akan menjadi indikasi utama lainnya mengenai kondisi ketenagakerjaan.
Dengan tren ketenagakerjaan yang positif, Federal Reserve memiliki ruang untuk fokus sepenuhnya pada pengendalian inflasi di tengah melonjaknya harga minyak akibat konflik Iran. Beige Book terbaru bank sentral menyatakan bahwa aktivitas ekonomi meningkat dengan laju sedikit hingga moderat di 10 dari 12 distrik regional Fed.
Secara terpisah, data dari Institute for Supply Management (ISM) mengenai sektor jasa AS tampak kuat di permukaan, tetapi juga menunjukkan tekanan inflasi. Indeks PMI jasa utama ISM naik menjadi 54,5 pada bulan Mei, lebih baik dari perkiraan dan meningkat dibandingkan bulan April. Laporan tersebut juga mencatat bahwa untuk bulan ketiga berturut-turut, tidak ada komoditas yang mengalami penurunan harga, dan indeks harga secara keseluruhan mencatatkan angka tertinggi sejak Agustus 2022.
“Dari 10 tanggapan yang termasuk dalam survei ISM bulan ini terhadap manajer pembelian industri jasa, tema dominannya adalah kenaikan biaya yang didorong oleh harga bahan bakar dan energi, tarif, serta permintaan terkait AI,” ujar penasihat Fed dari Wall Street Journal, Nick Timiraos.
“Tidak ada responden yang melaporkan penurunan atau pelonggaran harga. Beberapa komentar lebih berfokus pada ketatnya pasokan daripada harga secara langsung, tetapi tidak ada yang menunjukkan arah disinflasi,” tambahnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik setelah rilis laporan ADP dan ISM karena para pedagang menjual obligasi. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi tekanan tambahan bagi harga emas.
Artikel Terkait
Kebakaran di Permukiman Padat Tanah Abang Hanguskan Enam Rumah, Satu Tewas
Noel Peringatkan Prabowo soal Potensi Eskalasi Politik dan Gelombang Protes 98 Jilid 2
84 Siswa SMAN 1 Kokop Bangkalan Keracunan Usai Makan Program MBG, 12 Orang Masih Dirawat
Rusia Masuk Daftar Hitam PBB atas Dugaan Kekerasan Seksual di Zona Konflik, Moskow Protes