Musim Hujan Tingkatkan Risiko Penularan Hantavirus, Waspadai Gejala yang Mirip DBD

- Minggu, 24 Mei 2026 | 16:15 WIB
Musim Hujan Tingkatkan Risiko Penularan Hantavirus, Waspadai Gejala yang Mirip DBD

Curah hujan tinggi yang kerap memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit berbahaya lain yang ditularkan oleh hewan pengerat, yakni hantavirus, juga berpotensi mengalami lonjakan penularan dan kini menyita perhatian publik.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Febri Endra Budi Setyawan, menjelaskan bahwa risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir. Pada kondisi tersebut, kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah.

Febri mengungkapkan bahwa hantavirus dan DBD memiliki gejala awal yang sangat mirip. Namun, yang membedakan adalah munculnya ruam-ruam di kulit pada penderita hantavirus, yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan.

"Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat," jelasnya.

Febri mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang.

"Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh," ucapnya.

Lebih lanjut, Febri menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara.

"Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia," katanya.

Secara klinis, hantavirus terbagi dalam dua kondisi utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik.

Hingga saat ini, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik.

"Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien," terangnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar