Pemerintah Turki memutuskan untuk membuka kembali salah satu pos perbatasan utama dengan Suriah pada pekan ini, mengakhiri penutupan yang telah berlangsung selama 12 tahun. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari upaya Damaskus untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangganya.
Penyeberangan Akcakale, yang terletak di titik tengah perbatasan sepanjang 900 kilometer antara Turki dan Suriah, akan kembali beroperasi untuk warga sipil. Sebelumnya, pos ini hanya dibuka secara terbatas pada 2019 untuk keperluan perdagangan, pemakaman, serta perjalanan pejabat pemerintah setelah operasi militer Turki menargetkan kelompok jihadis ISIS dan pejuang Kurdi.
Gerbang perbatasan tersebut pertama kali ditutup oleh Ankara pada 2014. Keputusan itu diambil setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi mengambil alih kota Tal Abyad di Suriah utara, tepat di seberang pos Akcakale, menyusul kekalahan militan ISIS di wilayah tersebut.
Selama bertahun-tahun, Turki memandang SDF sebagai kelompok yang memiliki keterkaitan langsung dengan militan Kurdi PKK. Ankara menganggap keberadaan SDF sebagai ancaman serius terhadap keamanan di sepanjang perbatasan selatannya. Pandangan ini menjadi alasan utama di balik kebijakan penutupan yang ketat selama lebih dari satu dekade.
Keputusan pembukaan kembali untuk warga sipil menandai perubahan signifikan dalam dinamika hubungan bilateral kedua negara. Meski demikian, langkah ini juga mencerminkan upaya normalisasi yang lebih luas antara Suriah dan negara-negara tetangganya setelah bertahun-tahun konflik dan ketegangan politik.
Artikel Terkait
Dinamika Energi dan Kopi Warnai Perekonomian Afrika: OPEC Tingkatkan Produksi, Kamerun Krisis Listrik, Burundi Bangkit
Kebakaran Besar Landa Pergudangan di Kalideres, Ledakan Bertalu-talu Gegara Bahan Kimia Tipe-X
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Larang Bobotoh Euforia Berlebihan Usai Persib Kalahkan Persija
Militer Iran Siaga Penuh Amankan Fasilitas Nuklir di Tengah Kebuntuan Negosiasi dengan AS