Militer Iran Siaga Penuh Amankan Fasilitas Nuklir di Tengah Kebuntuan Negosiasi dengan AS

- Selasa, 12 Mei 2026 | 01:45 WIB
Militer Iran Siaga Penuh Amankan Fasilitas Nuklir di Tengah Kebuntuan Negosiasi dengan AS

Di tengah kebuntuan perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang membahas proposal perdamaian, militer Iran menyatakan kesiapan penuh untuk mengamankan fasilitas nuklirnya dari segala bentuk ancaman eksternal. Pernyataan tegas ini muncul saat negosiasi masih terganjal oleh sejumlah poin krusial, terutama menyangkut masa depan stok uranium yang telah diperkaya oleh Teheran.

Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Akrami Nia, menegaskan bahwa pasukan reguler dan Garda Revolusi Islam (IRGC) kini berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menjaga lokasi-lokasi strategis penyimpanan uranium. Pihak militer mengklaim telah mengantisipasi berbagai skenario musuh, termasuk retorika dari Amerika Serikat yang menyerukan penghancuran stok uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen milik Iran atau upaya untuk mengeluarkannya secara paksa dari wilayah kedaulatan negara tersebut.

"Kami sebelumnya sudah memperkirakan hal itu akan terjadi. Ada pernyataan yang terus disampaikan bahwa Republik Islam Iran memiliki uranium yang diperkaya hingga level 60 persen dan itu harus dihancurkan. Karena kami mengetahui rencana mereka, kami berada dalam kondisi siaga penuh," tegas Brigjen Akrami Nia, Senin 11 Mei 2026.

Selama puluhan tahun, Amerika Serikat dan negara-negara Barat terus mengemukakan narasi mengenai bahaya program nuklir Iran sebagai dasar untuk menekan Teheran. Namun, Iran tetap pada pendiriannya bahwa pengembangan energi nuklir merupakan hak sah mereka sebagai negara berdaulat yang tidak dapat diganggu gugat.

Sementara itu, laporan terbaru dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mencatat bahwa Iran saat ini memiliki lebih dari 440 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen. Para ahli menilai angka tersebut hanya berjarak satu langkah lagi dari tingkat pengayaan yang diperlukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, sebelumnya mengindikasikan bahwa sebagian besar cadangan uranium dengan pengayaan tinggi tersebut kemungkinan besar tersimpan di kompleks nuklir Isfahan. Lokasi ini sebelumnya pernah menjadi sasaran agresi udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, sehingga memicu peningkatan sistem pertahanan di area tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar