Iran Bantah Klaim Trump soal Penyerahan Uranium, Stok Nuklir Jadi Agenda Kritis Negosiasi

- Senin, 11 Mei 2026 | 14:20 WIB
Iran Bantah Klaim Trump soal Penyerahan Uranium, Stok Nuklir Jadi Agenda Kritis Negosiasi

Persediaan uranium yang diperkaya milik Iran kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Teheran telah sepakat untuk menyerahkan material tersebut sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, klaim itu langsung dibantah keras oleh pihak Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, pada Senin (20/4) menegaskan bahwa gagasan penyerahan uranium yang diperkaya “tidak bisa diterima sejak awal.” Dalam pernyataannya kepada kantor berita AP, ia membantah adanya kesepakatan semacam itu. Sementara kedua pihak tengah merundingkan jalan menuju pembicaraan damai lanjutan, masa depan material nuklir ini diprediksi akan menjadi salah satu agenda utama yang dibahas.

Untuk memahami mengapa persoalan ini begitu krusial, perlu diketahui terlebih dahulu apa sebenarnya uranium yang diperkaya itu dan bagaimana prosesnya.

Uranium adalah unsur alami yang dapat ditemukan di kerak bumi. Sebagian besar uranium terdiri dari dua isotop, yaitu U-238 dan U-235. Lebih dari 99 persen uranium alami adalah U-238, yang tidak mudah menopang reaksi berantai nuklir. Hanya sekitar 0,7 persen berupa U-235, isotop yang dapat dengan mudah terbelah dan melepaskan energi dalam proses yang dikenal sebagai fisi nuklir.

Agar uranium dapat dimanfaatkan, proporsi U-235 harus ditingkatkan melalui proses yang disebut pengayaan atau pemurnian. Pertama, uranium diubah menjadi bentuk gas. Gas ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin sentrifugal, perangkat yang berputar dengan kecepatan sangat tinggi. Saat berputar, isotop yang lebih berat, U-238, bergerak sedikit ke arah luar, sementara isotop yang lebih ringan, U-235, tetap lebih dekat ke pusat. Proses ini memungkinkan U-235 dipisahkan secara bertahap dari U-238. Uranium yang lebih terkonsentrasi kemudian ditarik keluar melalui salah satu ujung mesin sentrifugal.

Tingkat pemurnian uranium yang berbeda membuat unsur ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Uranium dengan kadar rendah, biasanya mengandung tiga hingga lima persen U-235, dipakai sebagai bahan bakar di pembangkit listrik tenaga nuklir komersial. Kadar ini cukup untuk menopang reaksi berantai yang terkendali, tetapi jauh di bawah tingkat yang diperlukan untuk senjata. Uranium dengan kadar tinggi, yakni 20 persen atau lebih, dapat digunakan di reaktor riset. Sementara uranium tingkat senjata biasanya diperkaya hingga sekitar 90 persen.

Pada konsentrasi tersebut, kondisi memungkinkan reaksi nuklir lepas kendali hampir seketika. Ketika banyak bahan ini digabungkan, atom-atom mulai terbelah dengan sangat cepat, melepaskan energi dalam jumlah besar hanya dalam sepersekian detik. Inilah yang membedakan penggunaan sipil dan militer uranium. Di reaktor, bahan bakar hanya diperkaya ringan dan reaksinya sengaja diperlambat serta dikendalikan dengan hati-hati, sehingga energi dilepaskan secara bertahap selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Untuk bom, tujuannya justru sebaliknya, yaitu membiarkan reaksi berlangsung sekaligus dalam waktu singkat.

Berdasarkan kesepakatan tahun 2015 dengan enam kekuatan dunia China, Prancis, Jerman, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris Iran dibatasi hanya boleh memperkaya uranium hingga 3,67 persen. Kesepakatan itu juga membatasi persediaan maksimal 300 kilogram, membatasi jumlah mesin sentrifugal yang boleh dioperasikan, serta melarang pemurnian di fasilitas bawah tanah Fordo. Namun, pada Mei 2018, di masa jabatan pertama Donald Trump, Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.

Semakin tinggi tingkat pemurnian, semakin dekat uranium untuk dapat digunakan dalam senjata nuklir. Mencapai kadar 20 persen dianggap sebagai tonggak penting, karena sebagian besar upaya teknis untuk menghasilkan bahan tingkat senjata sudah tercapai pada titik itu. Mengubah uranium alami menjadi bahan dengan kadar 20 persen membutuhkan ribuan langkah pemisahan berulang serta waktu dan energi yang besar. Sebaliknya, memperkaya uranium dari 20 persen hingga sekitar 90 persen hanya memerlukan jauh lebih sedikit langkah tambahan. Artinya, uranium yang telah diperkaya ke tingkat lebih tinggi dapat dimurnikan lebih lanjut menjadi bahan tingkat senjata dalam waktu relatif cepat.

Pusat dari negosiasi saat ini adalah soal apa yang harus dilakukan terhadap persediaan uranium yang sudah diperkaya milik Iran. Menurut pejabat senior Amerika Serikat, pada awal perang Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan kadar 60 persen. Bahan ini dapat diperkaya lebih lanjut dengan relatif cepat hingga ambang 90 persen yang diperlukan untuk uranium tingkat senjata. Iran juga memiliki sekitar 1.000 kilogram uranium dengan kadar 20 persen, serta 8.500 kilogram uranium dengan kadar sekitar 3,6 persen yang biasanya digunakan untuk keperluan sipil, seperti menghasilkan energi atau riset medis.

Sebagian besar uranium berkadar tinggi yang berpotensi diubah menjadi bahan untuk senjata nuklir diyakini disimpan di Isfahan. Fasilitas tersebut merupakan salah satu dari tiga lokasi nuklir bawah tanah di Iran yang menjadi sasaran serangan udara gabungan AS-Israel tahun lalu. Namun, belum jelas berapa banyak uranium berkadar tinggi yang disimpan di lokasi lain. Sejumlah sumber mengatakan Teheran menolak permintaan moratorium 20 tahun atas pemurnian nuklir. Sebagai gantinya, Iran mengusulkan jeda lima tahun, tawaran yang sebelumnya telah diajukan sebelum pecahnya konflik. Iran juga menolak tuntutan untuk menyerahkan persediaan 440 kilogram uranium berkadar tinggi, dan tetap berpegang pada konsesi awalnya untuk mengencerkan uranium dengan kadar 60 persen.

Iran berkeras bahwa fasilitas nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum menemukan bukti adanya program senjata nuklir aktif. Memproduksi uranium berkadar senjata hanyalah satu langkah dalam membangun senjata nuklir. Sebuah bom yang berfungsi juga membutuhkan pekerjaan tambahan yang kompleks, termasuk merancang dan merakit hulu ledak serta mengembangkan sistem peluncur.

“Iran sempat mengembangkan kapasitas dalam desain hulu ledak hingga tahun 2003, ketika tampaknya program itu dihentikan,” kata Patricia Lewis, pakar independen pengendalian senjata. Namun, dia menambahkan, setelah runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 dan kegagalan berlanjut dalam pembicaraan menuju perjanjian baru, ada kemungkinan Iran memutuskan untuk kembali mengembangkan kapasitas hulu ledak.

Sebuah penilaian pada Mei 2025 oleh Badan Intelijen Pertahanan AS menyebutkan Iran dapat memproduksi cukup uranium berkadar senjata untuk satu perangkat dalam “mungkin kurang dari satu minggu.” Namun, laporan itu juga menegaskan Iran “hampir pasti tidak sedang memproduksi senjata nuklir,” meski telah mengambil langkah-langkah yang bisa menempatkannya pada posisi untuk melakukannya jika memilih. Di sisi lain, Israel mengatakan memiliki intelijen yang menunjukkan Iran telah membuat “kemajuan nyata” dalam mengembangkan komponen untuk senjata nuklir.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar