Persidangan antara Elon Musk dan OpenAI di pengadilan California, Amerika Serikat, memasuki babak krusial dengan gugatan senilai US$150 miliar atau setara dengan Rp2.400 triliun. Kasus ini kembali membuka konflik lama antara Musk, Sam Altman, dan Greg Brockman yang berpusat pada arah bisnis perusahaan di balik ChatGPT. Musk menggugat OpenAI, Altman, dan Brockman dengan tuduhan pelanggaran kepercayaan amal serta pengayaan tidak adil.
Perkara ini dinilai akan menentukan masa depan organisasi pengembang ChatGPT setelah OpenAI bertransformasi dari lembaga nirlaba menjadi entitas dengan lengan bisnis yang berorientasi laba. Dalam kesaksiannya, Brockman mengungkapkan ketegangan yang sempat terjadi di antara para pendiri. "Saya benar-benar mengira dia (Musk) akan menyerang saya secara fisik," kata Brockman, dikutip dari NBC, Senin (11/5/2026).
Musk ikut mendirikan OpenAI pada 2015 bersama Altman dan sejumlah tokoh teknologi lainnya, namun memilih keluar tiga tahun kemudian setelah terjadi perebutan pengaruh di internal perusahaan. Persoalan utama yang diangkat Musk adalah keputusan OpenAI membuka unit berorientasi laba pada 2019, tiga tahun sebelum perusahaan meluncurkan ChatGPT yang memicu ledakan pasar kecerdasan buatan komersial.
Di sisi lain, OpenAI menilai gugatan Musk bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan rintisan kecerdasan buatan miliknya, xAI, yang kini menjadi pesaing langsung ChatGPT. Brockman bersaksi bahwa pertemuan internal pada Agustus 2017 menjadi salah satu titik panas dalam sejarah OpenAI, ketika para pendiri mulai membahas kebutuhan dana besar untuk mengembangkan kecerdasan buatan.
Suasana berubah ketika pembahasan masuk ke pembagian saham dalam rencana pembentukan unit berorientasi laba. Brockman mengatakan Musk menginginkan kendali mayoritas dan menolak usulan agar seluruh pendiri memperoleh porsi saham yang setara. "Saya akan menahan pendanaan sampai Anda memutuskan apa yang harus dilakukan," kata Musk, seperti dikutip dari kesaksian Brockman.
Brockman juga menggambarkan pertemuan panas pada 2017 itu sebagai momen ketika suasana hati Musk berubah tiba-tiba setelah usulannya untuk memiliki pengaruh lebih besar di OpenAI ditolak. Sementara itu, Musk dalam kesaksiannya mengatakan Brockman dan Altman telah menyesatkannya mengenai niat mereka saat melakukan perubahan bertahap di OpenAI sebelum dia menggugat pada 2024.
Musk menyebut telah memberikan donasi awal senilai US$38 juta kepada OpenAI. Namun, OpenAI pada 2024 menekankan bahwa perusahaan juga telah mengumpulkan US$90 juta dari sumber selain Musk. Musk meminta pengadilan melarang Altman dan Brockman bekerja di OpenAI serta memerintahkan perubahan lain untuk membatalkan restrukturisasi apabila juri dan hakim menyatakan mereka bertanggung jawab.
Persidangan ini dipimpin Hakim Distrik Amerika Serikat Yvonne Gonzalez Rogers, seorang hakim federal yang dikenal tegas dan tidak mudah goyah. Musk sempat mencoba memainkan peran seperti penasihat hukumnya sendiri ketika menuduh pengacara OpenAI, William Savitt. "Bukan begitu cara kerjanya," kata Gonzalez Rogers kepada Musk. "Mari kita ingatkan semua orang di ruang sidang bahwa Anda bukan pengacara," tegas hakim tersebut.
"Saya bukan pengacara. Secara teknis saya pernah mengambil Law 101 di sekolah," ujar Musk, yang memancing tawa pengunjung ruang sidang. Hakim tersebut juga menegur Musk karena unggahan di platform X yang menyerang OpenAI dan Altman, termasuk ketika Musk menyebut Altman sebagai "Scam Altman". "Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini tanpa Anda memperburuk keadaan di luar ruang sidang?" kata Gonzalez Rogers kepada Musk.
Brockman juga menyatakan sempat kecewa terhadap pemahaman Musk mengenai kecerdasan buatan, meski dia mengagumi sebagian rekam jejak bisnis Musk. "Dia memahami roket, dia memahami mobil listrik, dan saya percaya dia tidak dan tidak sampai sekarang memahami AI," kata Brockman. Brockman menyebut Musk terlihat tidak terkesan saat diperkenalkan dengan GPT-1, teknologi awal yang kemudian menjadi dasar ChatGPT. Musk menyebut teknologi itu "bodoh" dan mengatakan "anak-anak di internet" bisa bekerja lebih baik, pernyataan yang membuat seorang pegawai awal OpenAI kecewa berat.
Gonzalez Rogers pada akhirnya akan menjadi penentu akhir perkara tersebut. Hakim telah memberi tahu para juri bahwa penyampaian bukti dalam perkara ini bisa selesai awal pekan depan, sehingga mereka dapat mulai bermusyawarah.
Artikel Terkait
Polisi Amankan 321 Orang dalam Penggerebekan Markas Judi Online di Jakarta Barat, Usut Jaringan Hingga ke Atas
Brigjen Adex Yudiswan, Polisi Heroik Penggendong Bayi Korban Aviastar, Kini Jabat Direktur Siber Bareskrim
Lenovo Legion Y70 (2026) Dikonfirmasi Rilis 19 Mei di China, Bawa Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 8.000mAh
KNKT Masih Kumpulkan Data di Lokasi Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara