Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Saham Chip dan Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:15 WIB
Wall Street Cetak Rekor Baru, Didorong Saham Chip dan Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

Wall Street mencatatkan rekor penutupan tertinggi pada Jumat, 8 Mei 2026, setelah berhasil pulih dari kerugian di sesi sebelumnya. Momentum positif ini didorong oleh lonjakan harga saham sektor chip serta rilis laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan April yang ternyata melampaui ekspektasi pasar.

Indeks acuan S&P 500 menguat 0,8 persen ke level 7.396,79 poin, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melesat 1,7 persen menjadi 26.247,08 poin. Kedua indeks tersebut sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Bahkan, S&P 500 sempat menembus level 7.400 untuk pertama kalinya. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average hanya bergerak tipis dan ditutup pada 49.609,04 poin. Ketertinggalan Dow antara lain disebabkan oleh pelemahan saham McDonald’s dan Salesforce yang menjadi bagian dari indeks tersebut. Secara mingguan, S&P 500 mencatat kenaikan 2,3 persen, Nasdaq melonjak 4,5 persen, dan Dow menguat tipis 0,2 persen.

Para pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Bentrokan baru di Selat Hormuz membuat para pedagang tetap waspada. Meskipun demikian, Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan ABC News menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih berlaku meskipun terjadi pertempuran baru.

Dari sisi data ekonomi, laporan ketenagakerjaan bulan April menjadi sorotan utama pada Jumat lalu. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat bahwa jumlah pekerjaan non-pertanian bertambah 115 ribu, jauh melampaui perkiraan ekonom yang hanya sebesar 65 ribu. Sementara itu, tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3 persen. Namun, laporan ini dirilis di tengah kekhawatiran pasar yang lebih besar terhadap inflasi akibat melonjaknya harga minyak yang dipicu konflik Timur Tengah. Para analis mencatat bahwa data April menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan upah akibat tekanan inflasi.

“Data tenaga kerja pagi ini hanyalah tanda lain dari ketahanan berkelanjutan dalam perekonomian AS, terutama setelah laporan Maret yang begitu menggembirakan. Meskipun demikian, tekanan inflasi yang tertinggal masih berisiko menjerumuskan perekonomian ke dalam kemerosotan,” ujar Yerbol Orynbayev, mantan gubernur Bank Dunia Kazakhstan.

Sebelum laporan tersebut dirilis, para pedagang memperkirakan adanya kemungkinan kecil bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga tahun ini guna mengatasi guncangan inflasi akibat perang. Namun, ekspektasi tersebut mereda setelah data ketenagakerjaan dirilis, sebagaimana tercermin dalam alat pemantauan CME FedWatch.

“Pertumbuhan lapangan kerja yang cukup baik pada bulan April memperpanjang tren pertumbuhan yang lebih kuat sejak awal tahun. Pasar kerja perlahan-lahan keluar dari mode perekrutan rendah menuju mode perekrutan moderat dengan tingkat pemutusan hubungan kerja yang tetap rendah. Ini adalah kabar yang meyakinkan setelah survei bisnis dan konsumen melaporkan peningkatan kecemasan tentang Perang Iran dalam beberapa rilis terakhir,” kata Bill Adams, kepala ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank.

Di sisi lain, survei konsumen Universitas Michigan yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan penurunan sentimen. Indeks sentimen konsumen pada bulan Mei turun menjadi 48,2 dari 49,8 pada bulan April, yang merupakan angka terendah yang pernah tercatat. “Konsumen terus merasakan tekanan biaya, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar yang melonjak. Perkembangan di Timur Tengah kemungkinan tidak akan secara signifikan meningkatkan sentimen pasar sampai gangguan pasokan sepenuhnya teratasi dan harga energi turun,” demikian pernyataan Universitas Michigan.

Selain faktor ekonomi dan geopolitik, musim laporan keuangan juga turut mendorong pergerakan Wall Street. Kinerja emiten yang solid sejauh ini dinilai membantu pasar mengabaikan ketidakpastian di Timur Tengah dan kembali ke level rekor.

“Pasar merespons apa yang dapat mereka ukur, yaitu keuntungan. Kisah pendapatan yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) tetap kuat, dan kekuatan itu mengimbangi ketidakpastian geopolitik untuk saat ini. Memang, kita sedang melihat lonjakan keuntungan saat ini,” ujar Keith Lerner, kepala investasi dan kepala strategi pasar di Truist.

“Investor tampaknya bertaruh bahwa kita telah melewati puncak ketidakpastian di Timur Tengah dan bahwa, meskipun jalannya tidak rata, beberapa bentuk resolusi pada akhirnya akan muncul. Namun, ini bukan tanpa risiko. Indikator utama yang perlu diperhatikan adalah puncak harga minyak pada bulan Maret dan apakah imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun akan meningkat secara signifikan di atas 4,5 persen,” tambah Lerner. “Namun demikian, berdasarkan bukti yang ada ekonomi yang tangguh dan lonjakan keuntungan pasar bullish terus layak mendapatkan kepercayaan.”

Dalam pergerakan saham individual, Airbnb ditutup menguat 0,7 persen setelah perusahaan penyewaan liburan tersebut membukukan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi dan memberikan panduan pendapatan kuartal berjalan yang lebih baik dari perkiraan. Sebaliknya, saham CoreWeave merosot tajam 11,4 persen setelah perusahaan penyedia layanan AI itu melaporkan laba kuartalan yang jauh di bawah perkiraan dan prospek pendapatan yang mengecewakan. Sementara itu, saham Kelas A Coinbase Global berbalik arah dan ditutup naik 4,3 persen, meskipun bursa mata uang kripto tersebut mencatatkan kerugian kuartalan akibat penurunan tajam harga aset digital.

Saham-saham sektor chip berhasil pulih dari pelemahan sesi sebelumnya, dipimpin oleh Micron Technology, Intel, dan AMD. Intel khususnya melonjak 13,9 persen setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa perusahaan teknologi tersebut telah mencapai kesepakatan awal pembuatan chip dengan Apple. “Perdagangan AI dan teknologi tampaknya tidak pernah salah karena telah menjadi satu-satunya pilihan bagi investor,” kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar