IHSG Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Aksi Jual Asing Tembus Rp2,44 Triliun dalam Sepekan

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:20 WIB
IHSG Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Aksi Jual Asing Tembus Rp2,44 Triliun dalam Sepekan

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini berada dalam tekanan akibat perpaduan sentimen global dan domestik, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik hingga rencana perubahan tarif royalti di sektor pertambangan. Meskipun indeks masih mencatatkan kenaikan mingguan yang tipis, aksi jual investor asing membuat lajunya tertahan menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI pada pekan depan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 2,86 persen ke level 6.969,40 pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Pelemahan harian itu menyebabkan kenaikan mingguan IHSG menyusut drastis menjadi hanya 0,18 persen. Investor asing tercatat melakukan jual bersih sebesar Rp485 miliar di pasar reguler pada hari yang sama, dan akumulasi jual bersih sepanjang sepekan mencapai Rp2,44 triliun.

Phintraco Sekuritas mencatat bahwa tekanan pasar dipicu oleh koreksi di bursa global, seiring kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas geopolitik global. Di sisi lain, pasar juga mencermati rencana pemerintah untuk merevisi tarif royalti progresif bagi sejumlah komoditas logam, seperti nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.

Kebijakan itu dinilai berpotensi menekan prospek emiten tambang, terutama di tengah harga komoditas global yang masih tinggi. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026, dari 148,2 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 2024. Meskipun demikian, level cadangan devisa saat ini masih dianggap aman karena setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.

Tekanan tambahan datang dari sektor properti. Indeks harga properti residensial hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 0,83 persen pada kuartal IV-2025. Angka tersebut juga menjadi laju pertumbuhan terendah sejak 2003.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan menantikan sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, hingga penjualan sepeda motor, untuk membaca arah daya beli masyarakat. Di saat yang sama, perhatian investor juga tertuju pada pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar