Presiden Lebanon Sebut Negosiasi Langsung dengan Israel untuk Akhiri Perang, Sindir Hizbullah Lakukan Pengkhianatan

- Selasa, 28 April 2026 | 18:20 WIB
Presiden Lebanon Sebut Negosiasi Langsung dengan Israel untuk Akhiri Perang, Sindir Hizbullah Lakukan Pengkhianatan
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi, natural, dan sesuai dengan instruksi yang diberikan:

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, bicara blak-blakan. Menurut dia, negosiasi langsung dengan Israel itu tujuannya satu: mengakhiri perang yang melibatkan Tel Aviv dan Hizbullah. Tapi, ada nada keras di balik pernyataannya. Aoun menyebut pihak mana pun yang menyeret Lebanon ke dalam konflik ini telah melakukan "pengkhianatan".

Pernyataan itu jelas sebuah sindiran. Kasarannya, ya, mengarah ke Hizbullah. Soalnya, pemimpin mereka, Naim Qassem, sudah terang-terangan menyebut negosiasi langsung dengan Israel sebagai "dosa besar". Dua kubu ini memang sedang panas-panasnya beda pendapat.

Di sisi lain, fakta di lapangan bicara lain. Duta Besar Lebanon dan Israel ternyata sudah dua kali bertemu di Washington DC, Amerika Serikat, dalam beberapa pekan terakhir. Pertemuan semacam ini kalau boleh dibilang cukup bersejarah. Soalnya, ini pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir kedua negara duduk satu meja. Tentu saja, Hizbullah tetap pada pendiriannya: menolak mentah-mentah negosiasi semacam itu.

Nah, setelah putaran pertama pembicaraan, Presiden AS Donald Trump ikut campur. Dia mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari, yang mulai berlaku sejak 17 April. Lalu, setelah putaran kedua pekan lalu, gencatan itu diperpanjang lagi tiga minggu. Semacam ada jeda, tapi belum jelas juga ujungnya.

"Tujuan saya adalah mengakhiri situasi perang dengan Israel," kata Aoun dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Selasa (28/4/2026). Ia lalu merujuk pada perjanjian gencatan senjata tahun 1949 yang dulu mengakhiri pertempuran setelah perang Arab-Israel 1948. Mungkin maksudnya, sejarah bisa jadi contoh.

"Apakah perjanjian gencatan senjata itu suatu penghinaan?" tanya Aoun retoris. Lalu ia menambahkan dengan nada tegas: "Saya jamin bahwa saya tidak akan menerima kesepakatan yang memalukan."

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar